
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ada yang begitu isitimewa pada momen haji tahun ini: ahabat sekaligus kolega yang saya hormati, Afifun Nidlom, mendapat kesempatan yang sangat langka dan berharga untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah.
Tahun ini berasa begitu istimewa bagi saya. Seorang sahabat sekaligus kolega yang saya hormati, Afifun Nidlom, mendapat kesempatan yang sangat langka dan berharga: menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah.
Namun, yang membuat saya semakin bangga adalah karena kepergiannya tidak semata-mata sebagai jamaah haji biasa. Dia berangkat sebagai bagian dari tim Media Center Haji (MCH), setelah berhasil lolos dalam seleksi nasional yang cukup ketat.
Nidlom mewakili Majelistabligh.id, media resmi milik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.
Saya mengenal Nidlom sebagai sosok yang bersahaja namun penuh semangat dalam berdakwah.
Dia adalah dosen di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), sekaligus seorang mubaligh Muhammadiyah yang aktif.
Jadwal ceramahnya padat, bahkan seringkali harus dibadal oleh rekan-rekannya karena banyaknya undangan dari berbagai tempat.
Meski demikian, Nidlom tetap menunjukkan komitmen tinggi, baik sebagai pendidik maupun pewarta dakwah.
Saya berinteraksi intens dengannya selama di Tanah Suci. Setiap hari, ia mengirimkan 5 hingga 6 berita seputar cerita haji dari lapangan.
Berita-berita itu meliputi banyak aspek: dari logistik, penginapan, transportasi jamaah, hingga dinamika pelayanan yang dilakukan oleh petugas.
Tapi yang paling menarik bagi saya adalah narasi-narasi sisi lain dari ibadah haji, kisah-kisah yang tidak masuk headline, namun menyimpan kekuatan emosi dan spiritual yang mendalam.
Sebelum dia berangkat, saya sempat menyampaikan pesan khusus: "Tolong carikan dan tuliskan sisi-sisi lain dari aktivitas haji. Cerita-cerita kecil yang menyentuh, yang tidak semua orang bisa lihat atau rasakan."
Saya mendorongnya untuk mencari kisah-kisah itu, bukan tanpa alasan. Saya memiliki niat besar untuk menghimpunnya dalam sebuah buku. Biar ada jejak literasi. Agar pengalaman itu tidak hanya berhenti di layar gawai, tapi bisa diabadikan, dibaca kembali, dinikmati, dan dibagikan kepada keluarga, teman, dan seluruh lapisan masyarakat.
Dan Nidlom menunaikan titipan itu dengan sungguh-sungguh. Salah satu kisah yang membuat saya terdiam adalah tentang seorang jamaah perempuan yang telah berusia lebih dari 80 tahun.
Meski tubuhnya telah lemah dimakan usia, ia menolak naik mobil golf yang disediakan petugas, dan memilih berjalan kaki menuju paviliun "keong"---area tunggu sebelum dipulangkan ke hotel. Ada kekuatan tekad dan cinta pada ibadah yang terpancar dari langkah-langkah kecilnya.