Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Junjung Widagdo
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Junjung Widagdo adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Jelang Bagikan Rapor, Wali Murid Boleh Beri Hadiah?

Kompas.com, 5 Juni 2025, 15:23 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Bila semua orang tua merasa perlu memberikan hadiah agar anaknya diperhatikan, maka pendidikan telah berubah dari ruang belajar menjadi ruang transaksi rasa.

Gratifikasi kecil-kecilan sesungguhnya sudah lama berlangsung di lingkungan sekolah. Bahkan, praktik ini bukan hal baru bagi saya, sejak masa SMA dulu, saya sudah menyaksikan bagaimana orang tua siswa memberikan "embel-embel" kepada guru maupun wali kelas.

Saya masih ingat betul, sewaktu saya masih duduk di bangku SD pada tahun 1990-an, saya mendengar cerita dari mamak tentang seorang ibu, teman dekatnya, yang rutin memberikan berbagai hadiah kepada wali kelas anaknya.

Terus terang, saya pun pernah mengalami hal serupa ketika menjadi guru dan wali kelas. Saya bukan bermaksud menyombongkan diri, apalagi merasa bangga. Justru, saya sempat dibuat bingung sendiri oleh jumlah bingkisan yang saya terima.

Saat itu, membawa hadiah sebanyak itu naik ojek jelas tidak mungkin, apalagi memasukkannya ke dalam kardus, saking banyaknya!

Namun, pengalaman yang paling membekas adalah saat pembagian rapor tiba. Seorang ibu, yang sebelumnya pernah memberikan bingkisan menjelang Idulfitri, dengan nada penuh penegasan dan sedikit cemas bertanya, “Gimana rapor anak saya, Pak? Pasti naik, kan, ya?”

Sekilas, pertanyaan itu terdengar biasa saja. Tapi dalam hati saya, langsung terbayang sebuah kenyataan, bahwa di balik setiap pemberian dari orang tua, selalu ada harapan terselip agar anak mereka diperlakukan istimewa.

Pada Hati yang Lemah

Saya sebenarnya sudah mewanti-wanti hati ini agar mampu berdiri tegak lurus saat memberikan penilaian kepada murid-murid. Jangan sampai, walau sekali, saya mengistimewakan salah satu dari mereka.

Sejak pertama kali menerima hadiah, dari mulai biskuit, sarung, hingga uba rampe lainnya, saya selalu mencoba meyakinkan diri bahwa setiap pemberian dari orang tua murid tidak akan memengaruhi cara saya memperlakukan anak-anak mereka.

Pada setiap tangan yang terbuka menerima, saya bisikkan ke dalam hati, “Ini bukan awal dari perlakuan yang berbeda.

Namun, hati manusia bukanlah terbuat dari baja, batu, apalagi tungsten, logam yang konon paling kuat di bumi. Hati saya tetaplah hati manusia biasa, lemah dan mudah goyah.

Kebimbangan mulai menyeruak, terutama saat tiba waktunya memberikan penilaian. Yang terlintas di kepala bukan lagi catatan tugas atau hasil ulangan, melainkan wajah para orang tua dan bingkisan yang pernah mereka berikan.

Nilai nyaris melenceng dari objektivitas, tergoda oleh subjektivitas yang lahir dari sekadar rasa tidak enak hati.

Anak-anak yang kurang dalam penugasan, jarang hadir, atau bahkan kerap tidak mengerjakan latihan, justru menjadi beban pertimbangan tersendiri. 

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Urban Farming, Harapan Baru Pangan Berkelanjutan
Urban Farming, Harapan Baru Pangan Berkelanjutan
Kata Netizen
Membaca KUHP Baru dari Sudut Profesi Dokter Hewan
Membaca KUHP Baru dari Sudut Profesi Dokter Hewan
Kata Netizen
Pagi Mie Kondang, Taichan Malamnya: Cerita Kuliner Khas “Anak Jaksel”
Pagi Mie Kondang, Taichan Malamnya: Cerita Kuliner Khas “Anak Jaksel”
Kata Netizen
'Kapitil' Masuk KBBI, Apa Makna dan Bagaimana Penggunaannya?
"Kapitil" Masuk KBBI, Apa Makna dan Bagaimana Penggunaannya?
Kata Netizen
Rajabasa dan Pelajaran Tentang Alam yang Tak Pernah Bisa Diremehkan
Rajabasa dan Pelajaran Tentang Alam yang Tak Pernah Bisa Diremehkan
Kata Netizen
Harga Buku, Subsidi Buku, dan Tantangan Minat Baca
Harga Buku, Subsidi Buku, dan Tantangan Minat Baca
Kata Netizen
Rapor Anak dan Peran Ayah yang Kerap Terlewat
Rapor Anak dan Peran Ayah yang Kerap Terlewat
Kata Netizen
Merawat Pantun, Merawat Cara Kita Berbahasa
Merawat Pantun, Merawat Cara Kita Berbahasa
Kata Netizen
Bukan Sekadar Cerita, Ini Pentingnya Riset dalam Dunia Film
Bukan Sekadar Cerita, Ini Pentingnya Riset dalam Dunia Film
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau