
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apalagi jika orang tuanya termasuk yang kerap mengirimkan hadiah. Maka penilaian pun rawan menjadi bias, tidak lagi murni mencerminkan proses belajar anak, melainkan bercampur dengan rasa sungkan atau balas budi yang seharusnya tak perlu ada.
Saya jujur merasakannya. Dan di saat itulah saya sadar, menjaga integritas dalam menilai bukan hanya soal ketegasan, tapi juga soal kekuatan hati untuk menolak campur tangan rasa.
Saya pun adalah orang tua murid. Saya mengerti betul naluri ingin menyenangkan guru-guru anak kita.
Namun, justru karena saya tahu risikonya, saya melarang keras istri saya untuk memberikan hadiah apa pun kepada guru-guru anak kami.
Bukan karena kami pelit, tapi karena kami tidak ingin kebiasaan ini tumbuh menjadi budaya yang membingungkan batas antara penghormatan dan manipulasi.
Di grup orang tua siswa, saya kerap menyimak percakapan yang nyaris seragam tiap kali tahun ajaran berganti atau hari raya mendekat.
Selalu saja ada yang mengusulkan untuk "sum-suman", mengumpulkan uang untuk memberikan bingkisan kepada wali kelas.
Dari 30 orang tua dalam grup itu, hampir 99 persen menyetujui. Saya, tentu saja, sempat keberatan. Tapi akhirnya, saya dan istri ikut juga.
Kami tak ingin anak kami jadi satu-satunya yang orang tuanya tidak ikut patungan, lalu diperlakukan berbeda. Ini bukan tuduhan, ini ketakutan yang wajar.
Padahal, dari sudut pandang saya sebagai guru, praktik seperti ini sungguh mengganggu. Bukan hanya soal etika, tapi juga soal kepantasan dan profesionalitas kami sebagai pendidik.
Jika ditanya, sebagian besar orang tua akan menjawab, “Ini hanya bentuk terima kasih kami kepada guru.” Saya pun paham itu.
Jika saya jujur dengan diri sendiri, dengan hati saya sebagai orang tua yang juga pernah memberikan hadiah kepada guru anak saya, saya tak bisa menyangkal bahwa selalu ada harapan yang disisipkan.
Harapan agar anak kita diistimewakan. Harapan agar guru memandang anak kita lebih ramah, lebih sabar, atau lebih lunak dalam menilai.
Saya bersyukur ditakdirkan berada di dua posisi sekaligus, sebagai guru dan sebagai orang tua murid. Maka saya bisa merasakan keduanya secara utuh. Saya tahu rasanya menjadi guru yang menerima hadiah, dan saya tahu persis isi hati orang tua saat memberikan hadiah itu.
Dan dari kedua peran itu, saya tiba pada satu kesimpulan yang tak mudah, tetapi perlu disuarakan, bahwa kebiasaan memberi hadiah kepada guru, betapa pun niatnya baik, adalah tindakan yang mengganggu integritas dan profesionalitas kami dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.