
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Menyusuri Kawasan Melawai hingga kembali ke Terminal Blok M adalah menemui beragam pemandangan menarik.
Setelah membeli barang-barang tidak penting, tapi berharga bagi saya, satu tujuan adalah tempat makan siang. Terpilihlah sebuah restoran yang ramai. Tulisan di atasnya, The Misoa.
Dari menu saya memilih paket Double Combo, berisi makanan misoa original dan Iced Longan tea.
Misoa disebut juga sebagai mi gelas, berbentuk tipis dan terbuat dari tepung gandum. Berbeda dengan bihun (terbuat dari tepung beras) dan soun/mi kaca (dari pati kacang hijau, tapioka, atau ubi jalar).
Semangkuk hidangan berkuah terdiri dari misoa, pak coy, daging sapi sliced, irisan tofu (olahan sari kedelai seperti tahu), potongan jamur shiitake.
Restoran ini mengutip Pajak Hotel dan Restoran (dulu PB1) 10%. Tidak memungut biaya service. Takada pelayanan ekstra. Server hanya mengantar pesanan dan clear up (membersihkan meja).
Pembeli memesan makanan/minuman dan membayar langsung di konter/kasir. Bawang putih goreng, rajangan daun bawang, acar lobak, sambal, dan kondimen lainnya serta sendok garpu dan sumpit ambil sendiri di satu station.
Bagaimana rasanya? Saya belum pernah menyantap misoa kuah seperti ini. Pernah coba mengolahnya sendiri dan saya hanya menemukan masakan gagal. Rasa tidak karu-karuan.
Sesendok kuah misua, eh misoa original menghadirkan pengalaman rasa baru pada indra perasa. Mengesankan. Kombinasi bumbu dan saus, entah terdiri dari apa saja, membentuk cita rasa gurih yang lembut sekaligus menyegarkan.
Rasa makin kaya setelah ditambahkan bawang goreng, acar, daun bawang, sambal. Maka, makin tidak mudah menggambarkan bagaimana tanggapan indra tertang sentuhan rasa itu.
Pastinya, tidak ada lagi barang tersisa di dasar mangkuk logam, kecuali beberapa tetes kuah yang tak sempat terangkat oleh sendok.
Setelahnya, saya berkeliling Blok M. Mengincar tempat kuliner atau ngopi yang sekiranya menjadi tujuan pada kesempatan berikutnya. Tak terasa azan Asar memanggil. Saya menyelesaian kewajiban di musala dekat kios-kios buku bekas di Blok M Square.
Sebelum turun ke basement, saya melirik sekilas sebuh kios kopi di Ground Floor. Kecil, tapi tampak beragam pilihan biji kopi dalam stoples beling. Baru soft opening. Sepertinya baru buka. Ini akan menjadi target berikutnya.
Sekarang kembali ke Terminal Blok M Jalur 5. Naik TransJakarta (atau TransJabodetabek?) P11 untuk pulang ke Kota Bogor. Bus pulang lebih penuh dibanding berangkatnya. Tidak mampu berebut tempat duduk, maka saya berdiri. Setelah bus menurunkan penumpang di Citeureup, barulah bisa duduk.
Petualangan Sabtu yang menyenangkan, kendati sedikit melelahkan. Perjalanan TransJakarta satu trip sekitar 1,5 jam dan berjalan kaki di sekitar Blok M dan Melawai lumayan mengambil tenaga, meski imbalannya lebih bagus, yaitu pengalaman baru yang menyenangkan.
Lantas, berapa ongkos dari Kota Bogor ke Jakarta? Hanya Rp3.500 sekali perjalanan. Lebih murah dibanding tarif angkot Kota Bogor yang Rp4.000 sekali jalan.
Tarif TransJakarta P11 Blok M-Bogor Rp3.500 berlaku dari pukul 07.00 sampai 22.00 WIB. Pada pukul 05.00-07.00 WIB berlaku tarif Rp2.000 sekali jalan. Bus berangkat setiap hari dengan frekuensi kedatangan (headway) 15 menit sekali.
Dengan adanya tranportasi tarif terjangkau, bisa saja saya main ke Jakarta. Sekadar ngopi di sekitaran Blok M Jakarta Selatan, sambil cari inpirasi menulis.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ongkos Bus Bogor Jakarta Kurang dari Goceng"
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang