
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Budaya Kerja yang Toksik: Saat Semua Jadi Salah Karyawan
Akumulasi dari proses rekrutmen yang subjektif, beban kerja yang terus meningkat, dan kompensasi yang tidak sebanding, menciptakan atmosfer kerja yang semakin pengap.
Ketika karyawan baru cepat pergi, dan karyawan lama mulai jenuh, perusahaan justru mencari kambing hitam.
Evaluasi jarang diarahkan pada sistem atau keputusan strategis yang keliru — yang disalahkan justru karyawan: dianggap tidak tahan tekanan, kurang loyal, atau tidak punya mental juang.
Tanpa disadari, lingkungan kerja mulai terinfeksi budaya toksik: tidak ada ruang aman untuk menyampaikan pendapat, jam kerja makin panjang, dan produktivitas hanya dihitung dari angka, bukan kualitas.
HRD yang seharusnya bisa menjadi jembatan antara manajemen dan karyawan pun terjebak — terlalu sibuk mengisi kekosongan, menyaring lamaran, dan meredam keluhan yang tidak kunjung mendapat solusi nyata dari atas.
Lebih buruk lagi, citra perusahaan di mata pencari kerja pun memburuk. Employer branding hancur pelan-pelan. Di era digital, testimoni mantan karyawan menyebar cepat. Pelamar berkualitas mulai menghindar, dan yang tersisa hanya mereka yang terpaksa atau belum punya pilihan lain.
Saat HRD Terus Jadi Kambing Hitam
Di tengah semua keruwetan ini, HRD sering jadi pihak yang paling mudah disalahkan. Gagal merekrut? HRD yang salah. Karyawan cepat keluar?
HRD juga yang disorot. Padahal dalam banyak kasus, HRD hanya menjalankan proses yang sudah diatur dari atas, dengan ruang gerak yang minim dan tekanan dari berbagai arah.
Alih-alih diposisikan sebagai mitra strategis untuk membangun kualitas SDM jangka panjang, HRD justru direduksi menjadi sekadar pelaksana administrasi.
Tidak diberi kuasa penuh untuk menilai kandidat, tidak bisa menawarkan gaji layak, tapi dituntut untuk selalu menghadirkan talenta unggul.
Sudah saatnya perusahaan merefleksi ulang proses rekrutmennya. Jika ingin menarik dan mempertahankan karyawan terbaik, maka yang dibenahi bukan hanya sistem seleksi, tapi juga cara pandang terhadap manusia.
SDM bukan sekadar angka di spreadsheet efisiensi. Mereka adalah fondasi yang menentukan arah masa depan perusahaan.
Dan selama keputusan rekrutmen masih tersandera oleh selera personal, gaji masih dipandang sebagai beban, dan loyalitas hanya dituntut tanpa dihargai, maka jangan salahkan siapa-siapa kalau akhirnya yang bertahan hanya mereka yang belum sempat pergi.