
Kita tidak terlalu memikirkan atau menginginkan sesuatu, pikiran cenderung lebih rileks dan tidak terbebani oleh harapan atau kekecewaan. Hal ini dapat membuka hal-hal positif untuk masuk, termasuk apa yang sebelumnya diinginkan.
Menurut Epictetus, filsuf legendaris Yunani kuno, dalam bukunya Enchiridion mengatakan, "Jangan mengharapkan bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai keinginanmu, tetapi terimalah bahwa segala sesuatu akan berjalan sebagaimana mestinya, dan engkau akan bahagia."
Artinya kita tetap boleh punya mimpi, tetap kerja keras dan pasang target. Tapi setelah itu, kita belajar untuk let go and forget.
Melepaskan lalu melupakan ekspektasi yang berlebihan. Karena kadang yang membuat stres bukan karena realita yang pahit, tapi karena ekspektasi kita yang kelewat berlebih.
Kita sering salah mengartikan konsep “tidak butuh apa-apa” sebagai bentuk pasrah, bahkan menyerah. Padahal bukan itu maksudnya.
Bukan soal tidak memiliki ambisi, tapi soal tidak terlalu menggantungkan kebahagiaan pada hasil akhir atau harapan.
Kita bisa melakukannya dengan energi yang lebih ringan, tidak terbebani, tidak penuh kecemasan. Tidak lagi merasa bahwa kalau tidak berhasil, maka kita gagal sebagai manusia.
Epictetus mengajarkan agar lebih fokus pada usaha, bukan hasil. Lebih menghargai proses daripada cuma menunggu pencapaian. Karena terkadang ketenangan itu datang bukan dari hal-hal yang kita dapatkan, tapi dari cara kita menerima apa pun yang datang.
Cara Agar Tidak Terlalu Berharap
Lalu, bagaimana caranya untuk berhenti terlalu berharap, melepaskan ambisi yang mengekang, dan ego yang kadang terlalu mendominasi? Simak tipsnya berikut ini.
1. Melepaskan Ekspektasi yang Berlebihan
Kadang tanpa sadar, ambisi dapat berubah menjadi beban. Harapan yang tadinya menjadi bahan bakar justru berubah jadi tekanan saat kita terlalu melekat padanya. Bukan berarti ambisi itu salah tapi saat ambisi berubah jadi obsesi, kita mulai kehilangan ketenangan.
Ketika kita dapat melepaskan ekspektasi yang kelewat tinggi, sebenarnya kita sedang memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas, berpikir jernih dan untuk merasakan tanpa diburu ketakutan akan gagal atau kehilangan.
Dari keseimbangan inilah muncul keputusan yang lebih bijaksana dan lebih selaras dengan realita, bukan hanya dorongan emosi sesaat.
Justru saat kita tidak lagi memaksa, hidup terasa lebih bersahabat. Pikiran jadi lebih ringan, dan lebih siap menyambut hal-hal baik yang datang tanpa kita kejar-kejar.