
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Seperti paradoks, pengunjung mall tinggi tapi tidak ada yang beli, sedangkan di sisi lainnya mall sepi berpotensi bikin mall gulung tikar.
Mari sejenak membayangkan, andai kamu adalah pengelola mall, lebih pilih mall ramai atau sepi?
Melihat Rojali dan Rohana sebagai Cuan Tersembunyi
Sering sekali kita mendengar keluhan seperti "aduh, ini pengunjung cuma lihat-lihat doang, nggak ada yang beli!" ini.
Kemudian ada lagi "isinya Rojali (rombongan jarang beli) sama Rohana (rombongan hanya nanya) semua!". Itu adalah keluhan dari orang-orang yang punya toko di mal atau tenant.
Saya paham kekesalan itu. Rasanya capek juga melayani pertanyaan sana-sini, nawarin produk, tapi ujungnya cuma senyum dan bilang "Makasih ya, Kak."
Namun, mari coba deh kita ubah sedikit perspektif kita. Apakah fenomena Rojali dan Rohana ini beneran jadi ancaman? Atau, justru sebaliknya!
Mall Ramai Sama dengan Mesin Pencetak Rupiah dari Berbagai Arah
Kalau mall sepi, pengunjung yang datang cuma sedikit, dan meskipun mereka semua beli, seberapa banyak sih pendapatan yang bisa didapat?
Bandingkan dengan mal yang ramai, bahkan kalau cuma 1 dari 10 orang yang beli. Peluangnya jauh lebih besar, kan?
Dari kacamata pengelola mal, keramaian itu adalah aset paling berharga. Pertama, pendapatan parkir. Ini nih yang seringkali diremehkan. Semakin banyak kendaraan yang masuk, semakin banyak juga uang yang mengalir ke kas mal.
Nggak peduli pengunjung itu beli baju selusin, beli segelas kopi, atau cuma numpang pipis doang, uang parkir tetap masuk. Ini pendapatan pasif yang stabil dan lumayan lho.
Kedua, daya tarik bagi tenant. Coba deh posisikan diri kamu sebagai pemilik toko. Mau buka di mana? Di mal yang sepi seperti TPU atau mal yang selalu ramai dan penuh energi? Pasti pilih yang ramai kan?
Karena keramaian itu menunjukkan potensi. Semakin ramai malnya, semakin besar kemungkinan toko kamu terlihat, dan semakin besar peluang produk kamu dibeli. Tenant rela bayar sewa mahal di mal yang ramai karena mereka tahu, di situlah ada pasar.
Jadi keramaian pengunjung itu ibarat magnet yang menarik tenant-tenant berkualitas. Kalau malnya sepi, mana ada brand yang mau masuk?