
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Kini para pemilik kafe tengah dalam dilema: mau memutar musik dengan konsekuensi membayar royalti lagunya; sedangkan jika tidak, kafe akan terasa sunyi dan sepi.
Tentu saja ini adalah langkah yang bisa dimengerti dari sisi pengusaha. Tapi kalau kita lihat dari sisi musisi lokal yang baru merintis karir, ini jadi masalah besar.
Buah Simalakama untuk Industri Musik
Ini ibarat makan buah simalakama yang pahit. Pada satu sisi, untuk musisi yang sudah tenar dan kaya raya, adanya pungutan royalti ini jelas menguntungkan. Makin banyak lagu mereka diputar di tempat publik, makin tebal juga pundi-pundi uang mereka.
Ini adalah bentuk penghargaan yang layak atas karya yang sudah mereka ciptakan. Lagipula kita semua setuju jika karya seni itu harus dihargai.
Sedangkan pada sisi lainnya, bagi musisi-musisi baru yang lagi merintis karier, ini bisa jadi bumerang.
Bayangkan saja, kamu seorang musisi indie yang baru merilis album atau single pertama. Kamu sudah mencurahkan darah, keringat, dan air mata buat bikin lagu, nabung buat rekaman, dan berharap lagu-lagu kamu bisa didengar banyak orang.
Salah satu cara paling efektif untuk mendapat audiens baru adalah lewat pemutaran di tempat-tempat publik seperti kafe, mal, hingga barber shop.
Setiap kali lagu kamu diputar, ada potensi orang-orang yang mendengarnya jadi penasaran, cari tahu, terus dengerin lagi. Lambat laun, nama kamu bakal dikenal.
Tapi kalau sekarang semua tempat publik ini pada takut memutar lagu musisi lokal, bagaimana caranya musisi baru ini mau dikenal?
Kesempatan buat numpang di telinga publik jadi makin kecil. Mereka jadi harus berjuang lebih keras lagi, mungkin cuma bisa mengandalkan media sosial atau platform streaming, yang persaingannya juga super ketat.
Solusi yang Terpikirkan
Apakah kita harus kembali ke masa lalu, yang mana lagu bisa diputar di mana saja tanpa ada masalah royalti? Tentu saja tidak. Hak cipta harus tetap dihargai.
Namun kita juga tidak bisa membiarkan musisi-musisi baru jadi korban ketakutan ini.
Solusi masuk akal yang kepikiran oleh saya adalah membuat sebuah sistem yang jelas dan transparan. Bagaimana kalau ada sebuah daftar hitam dan daftar putih?