
Namun saat ini, Gibran berbalik dicemooh sebagai perusak citra dunia investasi dalam negeri. Ia dituding telah mencoreng bisnis start up yang sempat dianggap sebagai salah satu sektor paling menjanjikan saat ini dan di masa mendatang.
Dunia investasi saham
Dalam dunia investasi saham, praktik manipulasi laporan keuangan perusahaan seperti kasus Gibran dan eFishery juga sering terjadi. Ada dikenal istilah praktik financial engineer yang intinya sama saja; berusaha mengutak-atik laporan keuangan perusahaan agar terlihat bagus di mata publik.
Ini butuh keahlian khusus karena harus bisa mengelabui tim auditor publik yang akan melakukan audit. Meskipun pada praktiknya, mungkin ada juga auditor yang bisa diajak "main mata".
Sebenarnya untuk apa manipulasi laporan keuangan itu dilakukan? Mengapa tidak melaporkan kinerja perusahaan dengan apa adanya?
Pada kasus eFishery tujuannya jelas untuk menggaet sebanyak-banyaknya investor potensial agar tertarik menanamkan modalnya di perusahaan tersebut.
Andai eFishery benar-benar melaporkan kondisi perusahaan yang menurut hasil investigasi rugi hampir setengah triliun rupiah dalam kurun waktu kurang dari setahun, coba bayangkan, investor mana yang bersedia menggelontorkan dananya ke perusahaan yang jelas-jelas merugi?
Sama halnya dengan pasar saham. Saat ini ada sekitar 900 perusahaan publik yang sudah tercatat di bursa saham yang artinya kita selaku investor publik (minoritas) juga bisa ikut membeli sahamnya.
Apa alasan para investor mau membeli saham perusahaan? Tentu saja prospek kinerja perusahaan ke depannya yang diyakini akan lebih cemerlang. Darimana keyakinan itu akan muncul? Jelas salah satunya dari laporan keuangan yang diumumkan perusahaan.
Bila perusahaan secara rutin melaporkan kondisi kinerja keuangan yang selalu merugi dari tahun ke tahun, rasa-rasanya investor normal yang memang berniat investasi bukan berspekulasi tentu tak akan mau membeli sahamnya.
Sebaliknya, bila ada perusahaan yang rutin melaporkan perusahaannya mencatatkan keuntungan dan laba bersih, pasti para investor akan berlomba membeli saham perusahaan tersebut. Alhasil valuasi perusahaan tersebut akan melonjak tajam seiring meningkatnya harga saham.
Bila mengikuti petuah para investor saham yang sukses, tugas kita selaku investor adalah mencari perusahaan yang benar-benar berkinerja bagus pada harga yang wajar atau murah. Kinerja yang bagus harus tercermin jelas dalam laporan keuangan perusahaan.
Namun jangan buru-buru menilai kinerja perusahaan hanya berdasarkan sekilas membaca laporan keuangan yang ditampilkan. Jika meminjam istilah penegak hukum, maka kita bisa menerapkan azas praduga bersalah saat membaca laporan keuangan suatu perusahaan.
Kita harus kritis dan patut menduga bahwa laporan keuangan tersebut mungkin saja sudah dipoles sedemikian rupa agar kelihatan bagus.
Faktanya bahwa tidak sedikit perusahaan yang melaporkan bahwa kinerja perusahaan selalu mencatat keuntungan dari tahun ke tahun, namun ternyata itu cuma catatan di atas kertas alias tidak pernah nyata dalam wujud arus kas.