
Keuntungan yang diklaim perusahaan semestinya harus jelas dan transparan serta bisa ditelusuri penggunaannya.
Sungguh patut menjadi pertanyaan ketika perusahaan membuat laporan keuntungan, namun itu tak pernah disalurkan entah untuk mengembangkan lini bisnis perusahaan atau dibagikan ke para investor dalam bentuk dividen.
Ada lagi contoh lain, meskipun ini tak bisa dikategorikan sebagai praktik manipulasi, ada juga perusahaan yang di tahun-tahun sebelumnya menunjukkan kinerja biasa-biasa saja bahkan cenderung merugi.
Namun, tiba-tiba ada satu momen perusahaan melaporkan perusahaan memperoleh keuntungan yang signifikan dalam jumlah sangat besar.
Investor saham yang mungkin cuma membaca sekilas laporan tersebut, tentu akan bersemangat untuk membeli saham perusahaan tersebut.
Ternyata setelah ditelaah lebih dalam, keuntungan yang dilaporkan tersebut ternyata merupakan hasil dari jualan aset perusahaan.
Ini jelas bukan sinyal yang baik untuk kinerja perusahaan ke depannya. Sangat mungkin kinerjanya di tahun-tahun berikutnya akan kian menurun seiring jumlah aset yang berkurang.
Sudah jelas juga bahwa "keuntungan" yang dicatatkan pada periode tersebut takkan muncul lagi di masa mendatang, kecuali perusahaan berniat menjual lagi aset-aset yang lain.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kasus Gibran Eks CEO eFishery dan Pembelajaran untuk Investor Saham"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.