
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ada yang sudah familiar dengan nama Pasar Comboran? Jika kamu suka dengan barang-barang bekas maupun barang antik, pasti tahu tempat ini.
Letaknya cukup strategis di Gg. Masjid, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Meski kini telah ramai pusat-pusat perbelanjaan di Kota Malang, tetapi Pasar Comboran tetap eksis dengan caranya sendiri.
Selain itu, Pasar Comboran juga sebagai gerbang kenangan yang membuka kembali lembaran masa kecil yang penuh warna dan aroma khas barang bekas.
Bau besi tua, aroma gorengan, dan deret lapak yang memajang segala rupa barang bekas bukan hanya menawarkan fungsi ekonomi, tetapi juga menyimpan sejarah panjang dan kenangan personal yang tak bisa dihapus waktu.
Kenangan Masa Kecil
Saya masih ingat betul bagaimana Bapak kerap mengajak saya menyusuri lorong-lorong Comboran, tempat segala rupa benda tua yang mencari kehidupan baru.
Kami sering jongkok di pinggir rel kereta api yang masih aktif dilalui, hanya beberapa langkah dari area jual beli benda kuno, uang kuno, akik, dan juga perangko.
Saya suka menatap uang logam zaman Belanda, membaca nama-nama asing di perangko dari negeri jauh, membayangkan surat-surat cinta yang mungkin pernah mereka bawa.
Sementara itu, Bapak menjelajahi kios-kios kecil untuk mencari aksesori antik, pajangan kuno, aksesori sepeda motor atau potongan besi tua yang bisa disulap menjadi sesuatu yang baru.
Di sana, barang-barang bekas seolah memiliki napas kedua dan istimewanya di tangan Bapak, barang yang tampak usang bisa menjelma menjadi karya estetik.
Paling kuingat ketika Bapak membeli wadah lampu tua yang bagi saya saat itu terlihat tak menarik. Wadah lampu antik itu terlihat kusam dan beberapa bagiannya tampak goresan.
Sesampainya di rumah, wadah lampu usang itu dibersihkan seharian hingga tampak glowing. Kemudian Bapak merangkainya dengan rangka lampu jadul yang sudah ada sebelumnya di rumah.
Benda itu dilas, dicat, dilukis, hingga menjelma menjadi lampu hias yang bernyawa. Seolah Bapak sedang berdialog dengan benda mati dan menghidupkannya kembali, laksana Paman Gepetto yang menghidupkan sosok Pinokio.
Namun Comboran bukan hanya tentang kenangan pribadi, ia adalah bagian dari sejarah panjang Kota Malang.