Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Dhimas Raditya Lustiono
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Dhimas Raditya Lustiono adalah seorang yang berprofesi sebagai Perawat. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Apa yang Lelaki Renungkan Sebelum Memutuskan Menikah?

Kompas.com, 20 Agustus 2025, 08:54 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apa yang kemudian terpikirkan, bagi seorang yang belum menikah, melihat pemandangan janur-janur kuning yang mungkin semakin sering didapati akhir-akhir ini?

Bukan hanya itu, bagaimana rasanya ketika undangan-undangan penikahan yang mesti didatangi?

Kita bisa saja membayangkan: para tamu datang membawa doa dan amplop berisi uang. Sedangkan kita akan bersolek semenawan mungkin bak raja dan ratu sehari.

Namun di balik kemewahan dan semaraknya resepsi, tentu ada banyak hal yang harus dimengerti oleh lelaki sebelum dirinya menyandang gelar suami dan hidup bersama Wanita yang menjadi tulang rusuknya.

Ya, nyatanya menjadi suami bukanlah hal mudah dan tidak semudah membuka bungkusan nasi padang.

Wahai siapapun, termasuk diri penulis sendiri, wabil khusus bagi lelaki yang hendak menikah, mungkin bisa mampir sebentar di tulisan ini, sembari ngopi atau menikmati pisang goreng yang legit, karena mungkin hal ini akan menjadi penting atau sangat penting untuk diketahui para lelaki sebelum sah menjadi suami.

Sebelumnya, saya perlu mengapresiasi kepada lelaki yang sudah memiliki keinginan untuk menikah. Nyatanya tidak semua orang memiliki keberanian untuk menyatakan perasaan cintanya secara serius. Ada desir-desir gelisah ketika kamu bersanding dengannya, mungkin mengajaknya makan di resto favorite atau sekadar melihat keindahan pantai sembari menulis namamu dan pasanganmu di pasir. Tapi hal itu masih kalah serius ketika dirimu dan keluargamu mendatangi wanita pujaanmu dan keluarganya untuk menyatakan keinginannya dalam menjalani kebahagiaan bersama.

Jatuh cinta sepertinya memiliki episode-nya sendiri dalam hidup seseorang, perasaan yang terus dipupuk hingga kedua insan merasa yakin untuk hidup bersama, lalu status hubungan akan seketika berubah ketika kata "sah" menggema dan mengiringi doa ketika tanganmu menjabat penghulu.

Tapi perlu diingat, bahwa sebelum menjadi suami, kamu harus sadar bahwa tugasmu amatlah berat. Kamu bukan lagi manusia yang bisa dengan bebas pergi seperti merpati, ketika kamu dan pasanganmu telah sah menjadi suami istri, maka separuh (mungkin lebih) hidupmu adalah memikirkan istri dan memastikan dirinya tetap baik-baik saja.

Wanita yang dulu selalu wangi dan cantik ketika kau apeli, bisa jadi akan berubah ketika dirinya bangun dari tidurnya dan belum sempat cuci muka. Wanita yang dulu selalu modis, kini menjelma menjadi Wanita berdaster selayaknya ibu-ibu pada umumnya.

Cinta memang indah dalam fantasi, tapi realitanya ada perjuangan yang tidak mengenal kata tapi.

Ekspresi cinta tidak lagi sekuntum bunga mawar maupun cokelat, ekspresi cinta akan berubah menjadi kesungguhan sang suami dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Nyatanya, beras dan gas tidak bisa diganti dengan beribu kata cinta.

Kau mulai berpikir, bagaimana nanti mencari uang untuk menafkahi keluarga. Cinta yang dulu dilandasi kekaguman, sekarang telah berubah menjadi ekspresi tanggungjawab yang terikat dengan akad untuk senantiasa menerima pernikahan dan perkawinan.

Pernikahan tidak hanya sekadar legalitas untuk urusan ranjang, tetapi juga legalitas 2 insan untuk saling memberikan dukungan saat kondisi sedang jatuh dan terpuruk.

Wahai lelaki yang baru saja atau yang hendak melangsungkan pernikahan, ingatlah bahwa tidak selamanya Wanita berada dalam kondisi fit untuk terus melayanimu, baik urusan perut ataupun bawah perut.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Urban Farming, Harapan Baru Pangan Berkelanjutan
Urban Farming, Harapan Baru Pangan Berkelanjutan
Kata Netizen
Membaca KUHP Baru dari Sudut Profesi Dokter Hewan
Membaca KUHP Baru dari Sudut Profesi Dokter Hewan
Kata Netizen
Pagi Mie Kondang, Taichan Malamnya: Cerita Kuliner Khas “Anak Jaksel”
Pagi Mie Kondang, Taichan Malamnya: Cerita Kuliner Khas “Anak Jaksel”
Kata Netizen
'Kapitil' Masuk KBBI, Apa Makna dan Bagaimana Penggunaannya?
"Kapitil" Masuk KBBI, Apa Makna dan Bagaimana Penggunaannya?
Kata Netizen
Rajabasa dan Pelajaran Tentang Alam yang Tak Pernah Bisa Diremehkan
Rajabasa dan Pelajaran Tentang Alam yang Tak Pernah Bisa Diremehkan
Kata Netizen
Harga Buku, Subsidi Buku, dan Tantangan Minat Baca
Harga Buku, Subsidi Buku, dan Tantangan Minat Baca
Kata Netizen
Rapor Anak dan Peran Ayah yang Kerap Terlewat
Rapor Anak dan Peran Ayah yang Kerap Terlewat
Kata Netizen
Merawat Pantun, Merawat Cara Kita Berbahasa
Merawat Pantun, Merawat Cara Kita Berbahasa
Kata Netizen
Bukan Sekadar Cerita, Ini Pentingnya Riset dalam Dunia Film
Bukan Sekadar Cerita, Ini Pentingnya Riset dalam Dunia Film
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau