
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apa yang kemudian terpikirkan, bagi seorang yang belum menikah, melihat pemandangan janur-janur kuning yang mungkin semakin sering didapati akhir-akhir ini?
Bukan hanya itu, bagaimana rasanya ketika undangan-undangan penikahan yang mesti didatangi?
Kita bisa saja membayangkan: para tamu datang membawa doa dan amplop berisi uang. Sedangkan kita akan bersolek semenawan mungkin bak raja dan ratu sehari.
Namun di balik kemewahan dan semaraknya resepsi, tentu ada banyak hal yang harus dimengerti oleh lelaki sebelum dirinya menyandang gelar suami dan hidup bersama Wanita yang menjadi tulang rusuknya.
Ya, nyatanya menjadi suami bukanlah hal mudah dan tidak semudah membuka bungkusan nasi padang.
Wahai siapapun, termasuk diri penulis sendiri, wabil khusus bagi lelaki yang hendak menikah, mungkin bisa mampir sebentar di tulisan ini, sembari ngopi atau menikmati pisang goreng yang legit, karena mungkin hal ini akan menjadi penting atau sangat penting untuk diketahui para lelaki sebelum sah menjadi suami.
Sebelumnya, saya perlu mengapresiasi kepada lelaki yang sudah memiliki keinginan untuk menikah. Nyatanya tidak semua orang memiliki keberanian untuk menyatakan perasaan cintanya secara serius. Ada desir-desir gelisah ketika kamu bersanding dengannya, mungkin mengajaknya makan di resto favorite atau sekadar melihat keindahan pantai sembari menulis namamu dan pasanganmu di pasir. Tapi hal itu masih kalah serius ketika dirimu dan keluargamu mendatangi wanita pujaanmu dan keluarganya untuk menyatakan keinginannya dalam menjalani kebahagiaan bersama.
Jatuh cinta sepertinya memiliki episode-nya sendiri dalam hidup seseorang, perasaan yang terus dipupuk hingga kedua insan merasa yakin untuk hidup bersama, lalu status hubungan akan seketika berubah ketika kata "sah" menggema dan mengiringi doa ketika tanganmu menjabat penghulu.
Tapi perlu diingat, bahwa sebelum menjadi suami, kamu harus sadar bahwa tugasmu amatlah berat. Kamu bukan lagi manusia yang bisa dengan bebas pergi seperti merpati, ketika kamu dan pasanganmu telah sah menjadi suami istri, maka separuh (mungkin lebih) hidupmu adalah memikirkan istri dan memastikan dirinya tetap baik-baik saja.
Wanita yang dulu selalu wangi dan cantik ketika kau apeli, bisa jadi akan berubah ketika dirinya bangun dari tidurnya dan belum sempat cuci muka. Wanita yang dulu selalu modis, kini menjelma menjadi Wanita berdaster selayaknya ibu-ibu pada umumnya.
Cinta memang indah dalam fantasi, tapi realitanya ada perjuangan yang tidak mengenal kata tapi.
Ekspresi cinta tidak lagi sekuntum bunga mawar maupun cokelat, ekspresi cinta akan berubah menjadi kesungguhan sang suami dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Nyatanya, beras dan gas tidak bisa diganti dengan beribu kata cinta.
Kau mulai berpikir, bagaimana nanti mencari uang untuk menafkahi keluarga. Cinta yang dulu dilandasi kekaguman, sekarang telah berubah menjadi ekspresi tanggungjawab yang terikat dengan akad untuk senantiasa menerima pernikahan dan perkawinan.
Pernikahan tidak hanya sekadar legalitas untuk urusan ranjang, tetapi juga legalitas 2 insan untuk saling memberikan dukungan saat kondisi sedang jatuh dan terpuruk.
Wahai lelaki yang baru saja atau yang hendak melangsungkan pernikahan, ingatlah bahwa tidak selamanya Wanita berada dalam kondisi fit untuk terus melayanimu, baik urusan perut ataupun bawah perut.