
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah pernah terpikir bahwa orang dengan keterbatasan justru bisa memberi kita pelajaran tentang rasa syukur?
Kapan terakhir kali Anda merasa bahwa berbagi tak selalu tentang berapa besar nilainya, melainkan tentang keikhlasan hati?
Sebagai pengguna aktif Trans Jogja, saya sering menjumpai beragam kejadian di halte maupun di dalam bus.
Ada yang sekadar lewat dalam ingatan, ada pula yang menetap dan meninggalkan kesan mendalam.
Untungnya, sebagian besar adalah hal-hal kecil yang hangat dan menguatkan hati.
Salah satunya terjadi pada penghujung Juni 2025 lalu, ketika saya menaiki Trans Jogja koridor 2B dari Terminal Condongcatur menuju kawasan Brigjen Katamso.
Alih-alih memilih jalur yang lebih singkat, saya sengaja naik rute memutar ini. Alasannya sederhana: tak perlu transit, dan saya bisa menikmati suasana perjalanan yang lebih tenang.
Beberapa halte terlewati hingga bus berhenti di kawasan Gambiran. Saat itu, sepasang penumpang tunanetra naik ke dalam bus.
Saya membantu mereka duduk di kursi kosong tak jauh dari tempat saya.
Dari percakapan ringan keduanya, saya menangkap rasa gembira—mungkin karena biasanya mereka harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.
Tak lama kemudian, seorang penumpang lain yang duduk di sebelah saya—seorang pria berpakaian sederhana dengan kruk di tangannya—beranjak hendak turun.
Sebelum melangkah, ia mengangsurkan selembar uang Rp20.000 kepada pasangan tunanetra tadi sambil berkata lirih, “Sedikit berbagi rezeki.”
Sebelum meninggalkan bus, ia sempat bercerita singkat bahwa dirinya juga penyandang disabilitas, hanya berbeda kondisi: kaki yang tak lagi sempurna.
Namun ia bersyukur, dengan segala keterbatasannya, masih bisa bekerja dan produktif. Bagi dia, itu sudah lebih dari cukup dibandingkan keadaan mereka yang tunanetra.
Momen sederhana itu membuat hati saya terenyuh. Dalam segala keterbatasan fisik, bahkan mungkin materi, ia masih memikirkan orang lain.