
Membayar SPP anak sering harus bergiliran: satu anak bisa lanjut, dua lainnya menunggu.
Untuk urusan rumah tangga, rasanya seperti bermain “dakon”: menutup satu kebutuhan, lubang lain kembali terbuka.
Rumah kami makin menua, perabot banyak yang rusak, tetapi ada satu hal yang tak boleh berhenti: pendidikan anak-anak. Apa pun caranya, mereka harus tetap sekolah.
Jurus Bertahan Hidup
Hidup tidak memberi ruang untuk terlalu lama meratapi nasib. Saya mencoba berbagai cara untuk bertahan.
Menjadi ojek online dan offline. Tahun 2017 saya sempat menjadi driver ojek online. Sepulang kerja, saya mengantar penumpang dan barang. Lelah tentu ada, tapi hati selalu berbisik: ini demi anak-anak.
Berjualan online saat pandemi. Ketika Covid-19 melanda, saya menjual tahu sutra, sayuran, hingga kebutuhan rumah tangga.
Meski suasana mencekam, saya tetap mengantarkan belanjaan dari rumah ke rumah.
Melatih paduan suara. Di luar dugaan, saya mendapat kesempatan melatih paduan suara di sekolah maupun gereja.
Meski kemampuan saya sederhana, setiap kali kelompok yang saya dampingi tampil baik, rasanya ikut menang. Dari sini pula ada tambahan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari.
Ujian Baru: Kecelakaan yang Menghantam Hidup
Awal Februari 2025, ujian besar kembali datang. Saya mengalami kecelakaan yang membuat kaki harus dioperasi dua kali dengan pemasangan implan.
Luka fisik itu bukan hanya menyakitkan, tetapi juga menghantam seluruh sendi kehidupan keluarga kami.
Ekonomi yang rapuh makin terpuruk. Aktivitas terhenti, pekerjaan terganggu, dan anak-anak melihat ibu mereka terbaring tak berdaya.
Rasa sakit di tubuh justru kalah menyiksa dibanding pedihnya melihat anak-anak kehilangan pegangan.