
Ada hari-hari gelap ketika saya hanya bisa menatap langit-langit rumah sakit sambil bertanya: “Apakah saya masih mampu berdiri lagi untuk mereka?”
Belajar Ikhlas dan Bersyukur
Di titik paling rapuh itu, saya belajar menerima dengan ikhlas.
Saya memang tidak bisa lagi berpacu sekuat dulu, tapi saya masih diberi kesempatan bernapas, tersenyum untuk anak-anak, dan dikelilingi kepedulian orang-orang terdekat.
Pelan-pelan saya bangkit. Meski tubuh masih sakit, hati saya berusaha penuh syukur. Anak-anak pun tumbuh lebih mandiri, ikut membantu sebisanya, dan itu membuat saya semakin kuat.
Ikhlas dan syukur inilah yang membuat langkah kecil terasa cukup berarti. Dari sini saya percaya, perjalanan ini bukan hanya tentang penderitaan, melainkan proses pendewasaan.
Bahwa menjadi ibu sekaligus ayah tetap bisa dijalani dengan cinta, meski dalam kondisi penuh keterbatasan.
Belajar di Sekolah Kehidupan
Kini saya melihat semua ini sebagai “sekolah kehidupan.” Saya belajar bersabar, belajar mengatur, dan belajar untuk tidak menyerah.
Memang, roda kehidupan sering terasa lambat berputar. Tapi saya yakin, suatu saat roda itu akan membawa saya dan anak-anak naik ke atas.
Saya hanya perlu terus melangkah, meski dengan langkah kecil. Karena pada akhirnya, menjadi ibu sekaligus ayah bukanlah beban, melainkan panggilan cinta.
Kepada siapa pun yang membaca kisah ini, saya hanya ingin berpesan: jika hidup memaksa kita menjadi kuat, jangan takut.
Air mata boleh jatuh, tapi jangan biarkan semangat ikut roboh. Pada waktunya, kita akan melihat bahwa perjuangan ini bukan sia-sia, melainkan warisan keberanian bagi anak-anak yang kita cintai.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menjadi Ibu Sekaligus Ayah untuk Tiga Buah Hati"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.