
Orangtua pun sedang beradaptasi. Mereka ingin anak dihargai, tapi juga disiplin. Mereka marah ketika anak ditegur, tapi khawatir ketika anak tumbuh tanpa batas. Kita semua, pada dasarnya, sedang belajar menyeimbangkan kasih sayang dan ketegasan.
Sekolah yang Memanusiakan
Sekolah seharusnya menjadi tempat tumbuh, bukan arena saling tuding. Guru juga manusia yang sedang belajar memahami generasi baru, sama seperti murid yang sedang belajar memahami dunia.
Kasus Cimarga memberi pengingat bahwa kita butuh batas yang jelas antara teguran dan kekerasan, antara wibawa dan arogansi, antara mendidik dan melukai.
Disiplin tidak harus keras, dan empati tidak berarti lemah. Karena sejatinya, pendidikan bukan soal siapa yang salah — melainkan siapa yang mau terus belajar menjadi lebih baik: guru, murid, maupun orangtua.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Antara Teguran dan Kekerasan, di Mana Batas Disiplin Sekolah?"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.