
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ketika pasangan diam, pergi ke sudut ruangan, atau memilih menyeduh kopi sendiri, apakah itu tanda menjauh—atau justru cara ia merawat ketenangannya?
Setiap orang punya caranya sendiri untuk kembali tenang: saat lelah, cemas, marah, atau sekadar ingin mengambil jeda dari rutinitas.
Namun, sering kali perempuan lupa bahwa laki-laki tidak selalu mengekspresikan kebutuhan tenangnya dengan cara yang sama.
Mereka tidak selalu ingin diajak berbicara, tidak selalu butuh didekati, dan kadang tampak seperti mengambil jarak. Padahal, bisa jadi mereka hanya sedang mencari ketenangan dengan cara khasnya sendiri.
Seiring waktu, saya pun belajar memahami pola suami: bagaimana ia meredam amarah, menurunkan lelah, dan mengusir jenuh. Caranya sederhana, bahkan sempat membuat saya bertanya, “Sesimpel itu?”
Sejak awal pernikahan, kami bersepakat untuk saling memahami. Suami juga lebih dulu memberi ruang bagi saya: membiarkan saya menikmati me time setiap hari dan menerima kebiasaan-kebiasaan kecil yang membuat saya nyaman.
Oleh karena itu, saya pun belajar membaca ritme tenangnya—terlebih setelah mengetahui padatnya jam kerja dan panjangnya perjalanan yang ia tempuh setiap hari.
Menyendiri bersama Secangkir Kopi
Setiap malam setelah makan dan berbincang ringan—di mana biasanya saya menjadi pihak paling banyak bercerita—suami selalu berkata, “Di sini dulu, ya.” Ia lalu ke ruang depan, membawa secangkir kopi yang selalu ia racik sendiri.
Awalnya saya heran: mengapa malam hari ia lebih memilih membuat kopinya sendiri, padahal pagi-pagi ia senang meminum kopi buatan saya?
Tetapi, lama-lama saya sadar bahwa proses meracik kopi itu adalah bagian dari ritual tenangnya. Ia tidak ingin dibikinkan, bukan karena tidak suka, tetapi karena ingin menikmati momennya sendiri. “Biar ayah saja,” katanya pelan.
Suatu malam saya mengintip, penasaran apa yang ia lakukan. Ternyata ia hanya berbaring santai di kursi, menonton video lucu, bermain gim ringan, atau membaca artikel yang menarik perhatiannya.
Dulu, saya sempat kesal karena ia tidur lebih larut. Saya ingin ia beristirahat lebih cepat. Tapi akhirnya saya memahami: barangkali itu satu-satunya waktu ketika ia bisa benar-benar “lepas” dari tekanan pekerjaan dan tanggung jawabnya—waktu untuk sekadar menjadi dirinya sendiri.
Sejak mengerti, saya tak lagi memaksa. Meski ia baru masuk kamar ketika malam sudah cukup larut.
Ketenangan di Hari Libur