
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Jika pendidikan bertujuan membentuk manusia berkarakter, mengapa praktik kekerasan masih sering dianggap sebagai bagian dari proses mendidik?
Dunia pendidikan idealnya menjadi ruang tumbuhnya nilai kemanusiaan—tempat di mana anak belajar memahami diri, menghargai sesama, dan membangun masa depan.
Namun, realitas yang muncul belakangan ini justru sering kali menunjukkan sebaliknya. Berbagai kasus kekerasan di sekolah, baik yang dilakukan guru, siswa, maupun antarsesama murid, kerap menghiasi linimasa media sosial.
Video guru menampar siswa, murid menyerang guru, hingga praktik perundungan yang terekam kamera seolah menjadi tayangan rutin.
Ironisnya, semua itu terjadi di lingkungan yang seharusnya menjadi rumah bagi pembentukan karakter yang mulia.
Sebagian orang mungkin menilai tindakan keras sebagai bentuk ketegasan. Tetapi batas antara ketegasan dan kekerasan kerap kali begitu tipis—bahkan hilang.
Padahal, pendidikan tidak pernah dimaksudkan untuk menakut-nakuti. Ia adalah upaya menyentuh hati, bukan cara untuk melukai fisik maupun mental.
Pertanyaannya, mengapa kekerasan masih menjadi pilihan? Apakah ini warisan dari cara mendidik masa lalu? Atau tanda bahwa kita belum menemukan pendekatan disiplin yang lebih manusiawi?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu penting untuk kita renungkan. Sebab, generasi yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan berisiko kehilangan empati, kepercayaan diri, serta kemampuan akademik dan sosialnya.
Berbagai laporan menunjukkan bahwa kasus kekerasan pendidikan di Indonesia masih banyak—dan diperkirakan jauh lebih besar karena sebagian tidak pernah dilaporkan.
Inilah saatnya kita membedah akar persoalannya.
Kekerasan dengan Dalih Mendidik?
Dalam sejarah pendidikan Indonesia, tindakan disiplin keras pernah dipandang sebagai hal wajar.
Ungkapan klasik seperti “dicubit guru tandanya sayang” menjadi pembenaran terhadap bentuk-bentuk kekerasan ringan di sekolah.
Namun dunia sudah berubah. Ketika guru menampar siswa yang merokok atau menjewer murid yang melompat pagar, niatnya mungkin baik: ingin mendidik.