
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bagaimana rasanya mendampingi anak berkebutuhan khusus selama bertahun-tahun—di ruang-ruang kecil yang jarang dilihat publik, tetapi penuh cahaya?
Dua puluh tahun mengabdi sebagai guru pendidikan khusus membuat saya menyadari satu hal: sebagian tugas terpenting justru berjalan dalam senyap.
Tidak tercantum di dapodik, tidak masuk SK PBM, tidak menjadi sorotan. Namun, di situlah letaknya kekuatan seorang guru—pada kesetiaan, bukan panggung.
Dan mungkin, dari perjalanan panjang inilah saya akhirnya memahami benar makna kalimat yang sering kita dengar: Guru Hebat, Indonesia Kuat.
Awal Perjalanan: Ketika Panggilan Itu Menemukan Jalannya
Saya tidak pernah mengira bahwa langkah pertama memasuki sebuah sekolah pendidikan khusus dua puluh tahun lalu akan menentukan arah hidup saya.
Saya masih ingat tatapan seorang anak yang tidak dapat berbicara, namun seakan memahami keberadaan saya. Di momen itu, saya merasa profesi ini bukan sekadar pekerjaan; ini sebuah panggilan.
Setiap anak datang dengan ceritanya masing-masing—tantangan sensorik, hambatan motorik, dunia sunyi yang hanya mereka pahami, bahkan tawa ceria di balik keterbatasan mereka. Dari merekalah saya belajar tentang ketulusan, ketangguhan, dan harapan.
Peran Ganda: Mengajar Bahasa Inggris bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Selama hampir dua dekade menjadi guru kelas bagi siswa dengan spektrum autisme, saya menjalani apa yang saya sebut sebagai tugas bayangan: mengajar bahasa Inggris bagi anak-anak berkebutuhan khusus tanpa tambahan insentif atau pengakuan administratif.
Tidak mudah mengajarkan vocabulary kepada anak non-verbal atau membangun keberanian speaking kepada anak yang sulit melakukan kontak mata. Tetapi setiap kemajuan kecil—sebuah senyum, tatapan singkat, atau satu kalimat sederhana—adalah kemenangan.
Saya masih ingat seorang murid non-verbal yang tersenyum setiap kali saya mengucap “apple.” Atau siswa yang dulu selalu menunduk kini berani mengatakan “Miss, I can.”
Mereka belajar bahasa Inggris. Namun lebih dari itu, mereka belajar percaya diri. Dan saya belajar menjadi pendidik yang lebih sabar dan penuh empati.
Inovasi demi Inovasi: Lahirnya “Tech with Heart”
Dinamika siswa ABK menuntut guru untuk selalu beradaptasi. Dari kebutuhan itulah lahir konsep sederhana yang saya sebut Tech with Heart—pendidikan berbasis teknologi yang tetap humanis, tetap mengutamakan empati.