1. Benih
Jagung Lokal:
Setiap petani menyimpan sendiri benih panen sebelumnya. Jagung dipilih, diikat dengan kulitnya, lalu disimpan di loteng dapur.
Benih dianggap sebagai aset rumah tangga; tidak boleh digunakan sembarangan sebelum musim tanam.
Jika ada yang kekurangan benih, mereka dapat meminta kepada tetangga—sebuah bentuk solidaritas yang masih kuat.
Jagung Nonlokal:Benih mengandalkan bantuan pemerintah melalui kelompok tani.
Harga benih jagung nonlokal tergolong tinggi, bisa mencapai sekitar Rp100.000 per bungkus bila harus membeli sendiri.
2. Pengolahan Tanah
Jagung Lokal:
Ditaman di lahan yang cukup ditebas dan dibakar tanpa dicangkul atau dibajak. Lahan biasanya digunakan dua musim lalu diistirahatkan beberapa tahun.
Karena banyak akar dan tunggul sisa pohon, pertumbuhan akar jagung bisa terganggu.
Jagung Nonlokal:
Ditanam di lahan yang dibajak menggunakan traktor kelompok tani. Tanah menjadi gembur dan lebih siap tanam. Lahan bisa ditanam terus tanpa berpindah-pindah.
3. Sistem Tanam
Jagung Lokal:
Menggunakan sistem tumpang sari.
Satu lubang berisi 3–4 biji jagung dan 1–2 kacang tunggak, dengan jarak tanam sekitar 1 meter. Di sela-sela ditanam singkong, kacang-kacangan, dan tanaman pangan lain.
Jagung Nonlokal:
Ditanam dengan jarak rapat, 1–2 biji per lubang, tanpa tumpangsari.
Hasilnya optimal untuk jagung, tetapi tidak menyediakan variasi tanaman pangan tambahan.
4. Pemupukan
Jagung Lokal:
Mengandalkan pupuk alami dari daun rontok, humus, abu pembakaran, dan pohon polong-polongan seperti gamal yang memperkaya tanah dengan nitrogen.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya