
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Saat musim hujan tiba, apa kita sudah benar-benar yakin bahwa lingkungan tempat tinggal kita siap menampung derasnya air? Atau, jangan-jangan selokan di depan rumah justru sedang menunggu waktunya untuk meluap?
Musim hujan kembali menyapa. Seperti siklus yang selalu hadir setiap tahun, curah hujan diperkirakan akan berlangsung panjang hingga awal tahun depan.
Air hujan sejatinya membawa banyak manfaat, namun bagi sebagian dari kita, musim basah justru identik dengan rasa cemas.
Kecemasan itu bukan tanpa alasan. Beberapa waktu lalu, hujan deras memicu longsor di Cilacap, Jawa Tengah.
Di berbagai wilayah lain, kabar banjir bermunculan silih berganti. Jalanan tergenang, aktivitas warga terhambat, dan kerugian pun tak terhindarkan.
Fenomena ini terjadi karena pertemuan dua faktor. Pertama, curah hujan yang memang semakin ekstrem akibat perubahan iklim.
Kedua, dan sering terlupakan, adalah persoalan tata ruang serta pengelolaan sampah di lingkungan kita sehari-hari.
Masih banyak warga yang secara tak sadar memperlakukan hujan seolah-olah sebagai “pembersih otomatis”.
Sampah dibiarkan menumpuk dengan harapan derasnya air akan menghanyutkan semuanya. Padahal, alih-alih hilang, sampah itu justru berpindah dan berkumpul menjadi sumbatan yang berbahaya.
Hujan tidak pernah menghilangkan sampah. Ia hanya memindahkannya. Ketika sampah tersangkut di saluran air, aliran terhambat, air meluap, dan rumah-rumah warga menjadi korbannya.
Di titik inilah pertanyaan sederhana namun penting muncul: apa kabar selokan di depan rumah kita? Sudahkah kita memastikan kondisinya sebelum hujan semakin kerap turun?
Selokan: Garis Pertahanan Pertama di Lingkungan Kita
Selokan bukan sekadar parit kecil di pinggir jalan. Ia adalah bagian penting dari sistem drainase yang menjaga lingkungan tetap aman saat hujan turun. Ketika selokan bersih dan lancar, risiko genangan dan banjir berkurang drastis.
Namun kondisi di lapangan sering berkata lain. Selokan dipenuhi endapan lumpur, ranting, dan sampah rumah tangga — terutama sampah plastik yang sulit terurai.
Sampah-sampah ini mudah tersangkut, menumpuk, dan bekerja seperti bendungan kecil yang menghambat aliran air.