Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rinta Wulandari
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Rinta Wulandari adalah seorang yang berprofesi sebagai Perawat. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Pacaran Setelah Menikah, Obrolan Berdua Jadi Kunci

Kompas.com, 19 Desember 2025, 14:31 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

 Di tengah rutinitas rumah tangga dan kesibukan mengasuh anak, masihkah suami istri perlu menyediakan waktu khusus untuk “pacaran” dan berbincang dari hati ke hati?

Siang itu, sepulang kontrol ke rumah sakit di kawasan Cikini, saya dijemput suami. Niat awalnya memang ingin menemani, meski akhirnya kami hanya sempat pulang bersama karena urusan kantor yang molor. Kami memutuskan berjalan kaki menuju stasiun.

Selain lebih cepat dibanding terjebak macet, ternyata ada bonus kecil yang jarang kami dapatkan: waktu untuk mengobrol berdua.

Di sepanjang jalan, kami berbincang tentang banyak hal—rumah, anak-anak, keuangan, hingga cerita-cerita ringan keseharian.

Obrolan sederhana, tetapi terasa hangat. Bagi kami yang memiliki anak dengan jarak usia berdekatan, momen seperti ini termasuk langka.

Malam hari biasanya sudah dipenuhi suara anak-anak yang ingin bercerita, bercanda, dan minta ditemani. Rumah memang riuh seperti kelas PAUD, tetapi justru di sanalah tanda bahwa anak-anak tumbuh sehat dan bahagia.

Konsekuensinya, waktu “pillow talk” khas suami istri sebelum tidur nyaris tak pernah ada. Energi sudah terkuras, dan obrolan berdua sering kali tertunda.

Pegangan Tangan dan Hal-Hal Kecil yang Bermakna

Dalam perjalanan itu, suami menggenggam tangan saya—kebiasaannya setiap kali kami berjalan bersama di ruang publik. Jujur, ada rasa kikuk karena diperhatikan orang, tetapi di saat yang sama terasa hangat.

Tidak semua pasangan nyaman menunjukkan afeksi sederhana, namun bagi kami, hal kecil seperti ini justru menjadi pengingat bahwa kedekatan tetap perlu dirawat, bahkan setelah bertahun-tahun menikah.

Langkah kami sempat mengarah ke area bioskop Metropole. Sempat terlintas harapan akan menonton film bersama, tetapi rupanya suami hanya lapar.

Kami berakhir di sebuah food court, duduk berhadapan, memesan makan siang, dan menikmati suasana yang tenang.

Makan berdua tanpa menyuapi anak-anak terlebih dahulu terasa seperti kemewahan kecil. Kami mengobrol santai, tertawa, dan menikmati jeda singkat itu—sebelum kembali ke rumah dan larut dalam keceriaan anak-anak.

Lima Tahun Pernikahan dan Fase Penyesuaian

Usia pernikahan kami kini menginjak lima tahun, menuju tahun keenam. Bagi sebagian pasangan, ini masih tergolong usia muda.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Kata Netizen
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Kata Netizen
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Kata Netizen
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan 'P'
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan "P"
Kata Netizen
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Kata Netizen
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Kata Netizen
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Kata Netizen
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kata Netizen
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kata Netizen
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau