
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Di tengah rutinitas rumah tangga dan kesibukan mengasuh anak, masihkah suami istri perlu menyediakan waktu khusus untuk “pacaran” dan berbincang dari hati ke hati?
Siang itu, sepulang kontrol ke rumah sakit di kawasan Cikini, saya dijemput suami. Niat awalnya memang ingin menemani, meski akhirnya kami hanya sempat pulang bersama karena urusan kantor yang molor. Kami memutuskan berjalan kaki menuju stasiun.
Selain lebih cepat dibanding terjebak macet, ternyata ada bonus kecil yang jarang kami dapatkan: waktu untuk mengobrol berdua.
Di sepanjang jalan, kami berbincang tentang banyak hal—rumah, anak-anak, keuangan, hingga cerita-cerita ringan keseharian.
Obrolan sederhana, tetapi terasa hangat. Bagi kami yang memiliki anak dengan jarak usia berdekatan, momen seperti ini termasuk langka.
Malam hari biasanya sudah dipenuhi suara anak-anak yang ingin bercerita, bercanda, dan minta ditemani. Rumah memang riuh seperti kelas PAUD, tetapi justru di sanalah tanda bahwa anak-anak tumbuh sehat dan bahagia.
Konsekuensinya, waktu “pillow talk” khas suami istri sebelum tidur nyaris tak pernah ada. Energi sudah terkuras, dan obrolan berdua sering kali tertunda.
Pegangan Tangan dan Hal-Hal Kecil yang Bermakna
Dalam perjalanan itu, suami menggenggam tangan saya—kebiasaannya setiap kali kami berjalan bersama di ruang publik. Jujur, ada rasa kikuk karena diperhatikan orang, tetapi di saat yang sama terasa hangat.
Tidak semua pasangan nyaman menunjukkan afeksi sederhana, namun bagi kami, hal kecil seperti ini justru menjadi pengingat bahwa kedekatan tetap perlu dirawat, bahkan setelah bertahun-tahun menikah.
Langkah kami sempat mengarah ke area bioskop Metropole. Sempat terlintas harapan akan menonton film bersama, tetapi rupanya suami hanya lapar.
Kami berakhir di sebuah food court, duduk berhadapan, memesan makan siang, dan menikmati suasana yang tenang.
Makan berdua tanpa menyuapi anak-anak terlebih dahulu terasa seperti kemewahan kecil. Kami mengobrol santai, tertawa, dan menikmati jeda singkat itu—sebelum kembali ke rumah dan larut dalam keceriaan anak-anak.
Lima Tahun Pernikahan dan Fase Penyesuaian
Usia pernikahan kami kini menginjak lima tahun, menuju tahun keenam. Bagi sebagian pasangan, ini masih tergolong usia muda.