Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Julianda Boang Manalu
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Julianda Boang Manalu adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Antara Loyalitas ASN dan Masa Depan Karier Birokrasi

Kompas.com, 21 Desember 2025, 17:55 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Masihkah ada ruang harapan bagi aparatur sipil negara untuk menapaki jenjang tertinggi kariernya? Apakah ketika kursi-kursi strategis kian sering diisi dari luar jalur birokrasi sipil?

Di lingkungan birokrasi, belakangan ini terselip kegelisahan yang jarang diucapkan secara terbuka.

Ia hadir dalam obrolan ringan di sela jam istirahat, dalam candaan setengah serius saat lembur, atau dalam kalimat pendek yang diakhiri dengan helaan napas, “Ya sudahlah, mau bagaimana lagi.”

Kegelisahan itu sederhana, tetapi mendalam: masih adakah peluang bagi aparatur sipil negara (ASN) untuk mencapai puncak kariernya? Pertanyaan ini bukan datang dari mereka yang enggan bekerja.

Justru sebaliknya, ia muncul dari ASN yang telah bertahun-tahun mengabdi, mengikuti berbagai pelatihan, melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister bahkan doktor, dan memegang keyakinan bahwa kerja keras serta kompetensi akan menemukan jalannya. Keyakinan yang dulu terasa wajar, kini perlahan mulai goyah.

Tangga Karier yang Terasa Berubah

Sejak awal, ASN memahami bahwa karier di birokrasi bukan perlombaan cepat. Jalurnya panjang, bertahap, dan penuh kesabaran.

Mulai dari staf, naik perlahan melalui penilaian, waktu, dan kesempatan. Tidak semua akan sampai ke puncak, tetapi setidaknya ada rasa bahwa peluang itu tersedia bagi siapa pun yang tekun dan kompeten.

Keyakinan itulah yang membuat banyak ASN bertahan. Ada kepercayaan bahwa negara memiliki sistem, dan sistem itu akan memberi tempat bagi mereka yang menjalani prosesnya dengan sungguh-sungguh.

Namun dalam beberapa waktu terakhir, rasa itu mulai bergeser. Sejumlah jabatan yang selama ini dipandang sebagai puncak karier ASN semakin sering diisi oleh figur dari luar birokrasi sipil, khususnya dari kepolisian aktif. 

Pada titik inilah kegelisahan muncul, bukan karena rasa tidak hormat atau kecemburuan, melainkan karena pertanyaan yang wajar: jika posisi tertinggi kian sulit dicapai oleh ASN, untuk apa jalur panjang itu ditempuh?

Bekerja Tetap Jalan, Harapan yang Menyusut

Dampak dari situasi ini memang tidak kasatmata. Kantor tetap beroperasi, pelayanan publik berjalan, dan tidak ada gejolak yang mencolok. ASN tetap menjalankan tugasnya dengan disiplin.

Namun di balik rutinitas itu, ada perubahan suasana batin. Banyak ASN yang tetap bekerja, tetapi dengan orientasi berbeda. Dari yang semula ingin berprestasi, perlahan bergeser menjadi sekadar aman. Yang penting tidak salah langkah, tidak menimbulkan masalah.

Soal mimpi menduduki jabatan strategis, tak lagi menjadi prioritas, bahkan dianggap tak perlu dipikirkan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau