Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Iwan Berri Prima
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Iwan Berri Prima adalah seorang yang berprofesi sebagai Dokter. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Waspada Leptospirosis, Ancaman Penyakit Pascabanjir

Kompas.com, 21 Desember 2025, 19:04 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Setelah air banjir surut dan kehidupan perlahan kembali berjalan, ancaman kesehatan apa saja yang masih mengintai masyarakat, dan bagaimana kita bisa melindungi diri sejak dini?

Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera menyisakan duka yang mendalam. Tidak hanya merenggut korban jiwa serta merusak rumah dan infrastruktur, bencana ini juga meninggalkan persoalan lanjutan yang kerap luput dari perhatian, yakni ancaman penyakit menular pascabanjir.

Ketika air mulai surut dan warga berupaya membersihkan lingkungan serta menata kembali kehidupan, risiko gangguan kesehatan justru dapat meningkat. Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai secara serius adalah leptospirosis, penyakit zoonosis yang sering muncul setelah kejadian banjir.

Leptospirosis merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri ini hidup di ginjal hewan, terutama hewan pengerat seperti tikus, dan dikeluarkan melalui urine. Manusia dapat terinfeksi ketika bakteri masuk ke tubuh melalui kulit yang terluka, atau melalui mata, hidung, dan mulut, terutama saat bersentuhan dengan air atau tanah yang telah terkontaminasi.

Dalam situasi banjir, risiko penularan meningkat signifikan. Air banjir kerap bercampur dengan lumpur, limbah, dan urine hewan, sehingga menjadi media penyebaran bakteri yang sangat efektif.

Peran tikus dalam penyebaran leptospirosis tidak dapat diabaikan. Hewan ini dikenal sebagai reservoir utama bakteri Leptospira. Menariknya, tikus dapat membawa bakteri tersebut sepanjang hidupnya tanpa menunjukkan gejala sakit, namun tetap mengeluarkannya melalui urine.

Saat banjir terjadi, habitat tikus terganggu. Mereka keluar dari sarang dan berpindah ke area permukiman, memperluas kontaminasi lingkungan. Tidak jarang, air banjir membawa bakteri hingga ke rumah warga, jalan, bahkan lokasi pengungsian.

Di Sumatera, banjir bandang umumnya dipicu oleh kombinasi curah hujan tinggi, kerusakan daerah aliran sungai, serta alih fungsi lahan.

Setelah banjir, aktivitas pembersihan rumah dan lingkungan sering dilakukan tanpa perlindungan memadai. Kondisi inilah yang membuka peluang masuknya bakteri ke dalam tubuh manusia.

Gejala leptospirosis pada tahap awal kerap menyerupai flu, seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, dan rasa lemas.

Namun pada kasus yang lebih berat, penyakit ini dapat berkembang menjadi gagal ginjal, perdarahan paru, bahkan berujung pada kematian.

Data kesehatan menunjukkan bahwa tingkat kematian leptospirosis berkisar antara 5 hingga 10 persen, dan dapat meningkat jika diagnosis serta penanganan terlambat.

Oleh karena itu, kewaspadaan pascabanjir menjadi hal yang sangat penting. Pencegahan leptospirosis tidak selalu membutuhkan langkah besar, tetapi konsistensi dalam kebiasaan sehat dan dukungan sistem yang memadai.

Menghindari kontak langsung dengan air banjir merupakan langkah paling dasar. Jika terpaksa harus bersentuhan, penggunaan alat pelindung seperti sepatu bot karet dan sarung tangan sangat dianjurkan.

Studi kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa perlindungan sederhana ini dapat menurunkan risiko infeksi secara signifikan pada kelompok berisiko.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Kata Netizen
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Kata Netizen
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Kata Netizen
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan 'P'
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan "P"
Kata Netizen
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Kata Netizen
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Kata Netizen
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Kata Netizen
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kata Netizen
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kata Netizen
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau