Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tupari
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Tupari adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Rapor Anak dan Peran Ayah yang Kerap Terlewat

Kompas.com, 22 Desember 2025, 13:17 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

 

Ketika datang ke sekolah untuk mengambil rapor anak, apakah memerhatikan siapa saja yang biasanya hadir saat pembagian rapor di sekolah—dan mengapa peran ayah kerap nyaris tak terlihat di sana?

Rabu lalu (17/12), saya mengambil rapor anak saya di sekolah. Di ruang kelas yang dipenuhi kursi plastik dan antrean orang tua, ada satu pemandangan yang langsung terasa menonjol: hampir seluruh yang hadir adalah ibu-ibu.

Nah, dari puluhan orang tua, jumlah ayah yang datang bisa dihitung dengan jari. Hanya tiga orang, termasuk saya sendiri.

Sekilas, pemandangan ini tampak biasa. Bahkan mungkin dianggap wajar. Namun justru di titik itulah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya. Ketika ketimpangan terus-menerus terjadi dan diterima sebagai hal normal, sering kali ada persoalan yang luput kita sadari.

Apa yang terlihat hari itu bukan sekadar antrean pembagian rapor, melainkan potret kecil dari absennya ayah di ruang pendidikan anak.

Sekolah dan Pembagian Peran yang Terbiasa Timpang

Dalam praktik sehari-hari, keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak kerap direduksi pada pembagian peran yang sederhana: ayah bekerja dan mencukupi kebutuhan finansial, ibu mengurus urusan sekolah.

Pola ini diwariskan lintas generasi, diterima tanpa banyak pertanyaan, dan akhirnya membentuk kebiasaan sosial.

Akibatnya, sekolah menjadi ruang yang terasa akrab bagi ibu, tetapi canggung bagi ayah. Ayah hadir saat acara besar atau momen seremonial, namun sering absen dalam peristiwa-peristiwa kecil yang sesungguhnya sangat menentukan perjalanan belajar anak.

Rapor: Catatan Proses, Bukan Sekadar Nilai

Padahal, rapor bukan hanya lembaran angka. Ia adalah catatan proses. Di dalamnya tersimpan jejak konsistensi belajar, perkembangan sikap, catatan karakter, hingga sinyal awal ketika seorang anak mulai mengalami kesulitan atau kehilangan motivasi.

Jika dibaca dengan sungguh-sungguh, rapor dapat menjadi alat deteksi dini. Ia membuka ruang dialog dan refleksi, jauh sebelum masalah belajar berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Sayangnya, rapor sering diperlakukan sebagai hasil akhir. Nilai tinggi dirayakan, nilai rendah disesalkan, lalu disimpan.

Lebih dari itu, proses membaca dan menindaklanjuti rapor sering kali hanya dibebankan kepada ibu. Ayah cukup mengetahui “hasil akhirnya”, tanpa benar-benar memahami proses dan dinamika yang melatarbelakanginya.

Kehadiran Ayah yang Terus Dianggap Pilihan

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Kata Netizen
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Kata Netizen
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Kata Netizen
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan 'P'
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan "P"
Kata Netizen
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Kata Netizen
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Kata Netizen
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Kata Netizen
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kata Netizen
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kata Netizen
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau