Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Junjung Widagdo
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Junjung Widagdo adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Rajabasa dan Pelajaran Tentang Alam yang Tak Pernah Bisa Diremehkan

Kompas.com, 22 Desember 2025, 15:56 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Seberapa sering kita menilai sebuah gunung hanya dari ketinggiannya, tanpa benar-benar memahami karakter alam yang menyertainya?

Sejauh mana persiapan mampu menolong kita ketika kenyataan di jalur pendakian tak selalu seindah cerita di media sosial?

Jika Anda berada di Lampung Selatan, khususnya di Kalianda, pandangan hampir pasti akan tertuju pada sebuah gunung dengan dua puncak yang saling berdekatan.

Bagian tengahnya tampak melekuk ke dalam, membentang tinggi dan luas di hadapan mata. Dari kejauhan, ia terlihat tenang, bahkan bersahabat. Gunung itulah yang dikenal sebagai Gunung Rajabasa.

Gunung Rajabasa memiliki ketinggian sekitar 1.281 meter di atas permukaan laut. Angka itu, bagi sebagian orang, mungkin tidak terdengar menggentarkan. Namun, di gunung ini, ketinggian bukanlah tolok ukur utama. Karakter alamlah yang justru menentukan.

Hutan hujan tropis yang lembap dan basah mendominasi jalur pendakian. Akar-akar pohon menjalar di sepanjang lintasan, memaksa kaki dan mata bekerja bersamaan. Medan seperti ini tidak hanya menuntut tenaga, tetapi juga kewaspadaan penuh.

Beberapa jalur berupa setapak sempit dengan jurang di kanan dan kiri. Tanahnya licin, pijakannya tidak selalu pasti, dan hampir tidak memberi ruang untuk kesalahan langkah. Di titik-titik seperti inilah pendakian berhenti menjadi aktivitas rekreasi, lalu berubah menjadi urusan kehati-hatian.

Semakin jauh melangkah, semakin terasa bahwa jalur yang kami hadapi berbeda jauh dari bayangan awal. Seolah ada jarak lebar antara cerita yang kami dengar dan kenyataan yang kami pijak.

Gambaran pendakian Gunung Rajabasa di media sosial, singkat, kering, dan penuh keceriaan. Foto-foto yang beredar seakan menegaskan bahwa Rajabasa adalah gunung yang ramah bagi siapa pun.

Kenyataannya, kami justru berhadapan dengan hujan dan badai di ketinggian. Jalur berubah licin, kabut menutup pandangan, dan setiap langkah harus diambil dengan penuh perhitungan. 

Menuju Puncak

Bukanlah sebuah kebetulan ketika Gunung Rajabasa pernah menjadi markas gerilya Raden Intan II dalam melawan Belanda. Topografinya yang curam dan rimbun membuat siapa pun termasuk pasukan kolonial kesulitan melakukan pengejaran.

Letaknya pun strategis, layaknya menara pemantau alami bagi lalu lintas kapal-kapal Belanda di Selat Sunda. Dari punggungan tertentu, gunung ini memungkinkan pandangan terbuka ke berbagai arah. Dan itulah yang benar-benar kami rasakan di sepanjang perjalanan.

Kami mengarungi topografi curam dengan punggungan yang terasa seperti jalur pengawasan alami, seolah gunung ini sejak awal memang diciptakan untuk bertahan dan mengawasi.

Pendakian kami dimulai dari Basecamp Teropong Kota. Basecamp ini dapat diakses menggunakan kendaraan roda empat. Aksesibilitas ini, tanpa disadari, memberi kesan bahwa pendakian Rajabasa tidaklah terlalu berat.

Bahkan, tersedia jasa ojek dari basecamp menuju pos evakuasi dengan tarif Rp30.000 bagi pendaki yang ingin menghemat tenaga sebelum memasuki pintu rimba.

Kemudahan inilah yang barangkali menumbuhkan rasa percaya diri berlebih. Kami merasa cukup kuat, cukup siap, dan memilih berjalan kaki tanpa memanfaatkan jasa ojek, dengan alasan ingin lebih menikmati momen.

Belakangan, keputusan itu terasa kurang bijak. Karena justru tenaga yang dihemat di awal itulah yang sangat dibutuhkan saat pendakian sesungguhnya dimulai.

Entah berapa kilometer jarak dari Basecamp Teropong Kota menuju pos evakuasi. Yang jelas, kami menghabiskan waktu sekitar 40 menit berjalan kaki menapaki tanjakan konsisten dengan lapisan beton di sepanjang jalurnya, tanjakan yang pelan-pelan menggerus tenaga tanpa terasa.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Kata Netizen
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Kata Netizen
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Kata Netizen
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan 'P'
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan "P"
Kata Netizen
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Kata Netizen
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Kata Netizen
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Kata Netizen
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kata Netizen
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kata Netizen
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau