
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Kenapa siswa dengan nilai rapor baik belum tentu menjadi pilihan utama dunia industri, sementara mereka yang bersikap baik justru sering lebih dipercaya?
Beberapa waktu lalu, seusai jam praktik, seorang guru bercerita dengan nada lelah. Keluhannya bukan soal alat yang rusak atau bahan yang habis, melainkan kebiasaan sebagian siswa yang datang terlambat tanpa rasa bersalah.
Ketika ditegur, jawabannya singkat, “Masih bisa kan, Pak?” Kalimat yang terdengar ringan itu, sesungguhnya menyimpan persoalan yang lebih dalam.
Di sekolah kejuruan, keterampilan teknis memang menjadi perhatian utama. Siswa dilatih mengelas, membongkar mesin, menyusun laporan keuangan, atau merancang jaringan komputer.
Hasilnya terlihat dan dapat diukur. Banyak siswa yang secara teknis sudah cukup mumpuni. Namun, persoalan sering muncul ketika mereka mulai berhadapan dengan kebiasaan kerja.
Pengalaman mendampingi siswa praktik kerja lapangan kerap membuka mata. Ada siswa yang cepat belajar, mudah diajak berdiskusi, dan disukai lingkungan kerja.
Ada pula siswa yang secara teknis tidak kalah baik, tetapi kurang mendapat tempat karena sulit diatur, tidak disiplin waktu, atau enggan berkomunikasi. Dalam banyak situasi, industri justru lebih memilih siswa pertama, meski keterampilannya belum sepenuhnya matang.
Hal ini memberi gambaran bahwa dunia kerja hari ini tidak hanya mencari orang yang pintar, tetapi orang yang bisa dipercaya.
Kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, berinisiatif, serta menyikapi masalah dengan tenang menjadi penilaian penting.
Soft skill semacam ini tidak hadir secara instan. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dibangun sedikit demi sedikit dalam keseharian.
Di bengkel sekolah, misalnya, masih sering terlihat siswa yang bekerja sendiri-sendiri meskipun tugasnya bersifat kelompok.
Ada yang fokus pada bagiannya, ada yang menunggu perintah, dan ada pula yang menghilang dengan alasan sederhana.
Ketika hasil kerja tidak maksimal, saling menyalahkan pun terjadi. Situasi semacam ini sering dianggap wajar, padahal di dunia kerja, pola seperti itu dapat berujung pada konflik yang lebih serius.
Persoalan waktu juga menjadi catatan tersendiri. Di sekolah, keterlambatan kerap diberi toleransi dengan alasan siswa masih belajar.
Namun, kebiasaan ini kadang terbawa hingga ke tempat PKL. Tidak sedikit siswa yang terkejut ketika perusahaan menegur keterlambatan satu atau dua menit. Di sanalah mereka mulai menyadari bahwa dunia kerja memiliki standar yang berbeda.