Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Syahrial
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Syahrial adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka

Kompas.com, 11 Januari 2026, 20:50 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Kenapa siswa dengan nilai rapor baik belum tentu menjadi pilihan utama dunia industri, sementara mereka yang bersikap baik justru sering lebih dipercaya?

Beberapa waktu lalu, seusai jam praktik, seorang guru bercerita dengan nada lelah. Keluhannya bukan soal alat yang rusak atau bahan yang habis, melainkan kebiasaan sebagian siswa yang datang terlambat tanpa rasa bersalah.

Ketika ditegur, jawabannya singkat, “Masih bisa kan, Pak?” Kalimat yang terdengar ringan itu, sesungguhnya menyimpan persoalan yang lebih dalam.

Di sekolah kejuruan, keterampilan teknis memang menjadi perhatian utama. Siswa dilatih mengelas, membongkar mesin, menyusun laporan keuangan, atau merancang jaringan komputer.

Hasilnya terlihat dan dapat diukur. Banyak siswa yang secara teknis sudah cukup mumpuni. Namun, persoalan sering muncul ketika mereka mulai berhadapan dengan kebiasaan kerja.

Pengalaman mendampingi siswa praktik kerja lapangan kerap membuka mata. Ada siswa yang cepat belajar, mudah diajak berdiskusi, dan disukai lingkungan kerja.

Ada pula siswa yang secara teknis tidak kalah baik, tetapi kurang mendapat tempat karena sulit diatur, tidak disiplin waktu, atau enggan berkomunikasi. Dalam banyak situasi, industri justru lebih memilih siswa pertama, meski keterampilannya belum sepenuhnya matang.

Hal ini memberi gambaran bahwa dunia kerja hari ini tidak hanya mencari orang yang pintar, tetapi orang yang bisa dipercaya.

Kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, berinisiatif, serta menyikapi masalah dengan tenang menjadi penilaian penting.

Soft skill semacam ini tidak hadir secara instan. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dibangun sedikit demi sedikit dalam keseharian.

Di bengkel sekolah, misalnya, masih sering terlihat siswa yang bekerja sendiri-sendiri meskipun tugasnya bersifat kelompok.

Ada yang fokus pada bagiannya, ada yang menunggu perintah, dan ada pula yang menghilang dengan alasan sederhana.

Ketika hasil kerja tidak maksimal, saling menyalahkan pun terjadi. Situasi semacam ini sering dianggap wajar, padahal di dunia kerja, pola seperti itu dapat berujung pada konflik yang lebih serius.

Persoalan waktu juga menjadi catatan tersendiri. Di sekolah, keterlambatan kerap diberi toleransi dengan alasan siswa masih belajar.

Namun, kebiasaan ini kadang terbawa hingga ke tempat PKL. Tidak sedikit siswa yang terkejut ketika perusahaan menegur keterlambatan satu atau dua menit. Di sanalah mereka mulai menyadari bahwa dunia kerja memiliki standar yang berbeda.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Kata Netizen
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Kata Netizen
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Kata Netizen
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan 'P'
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan "P"
Kata Netizen
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Kata Netizen
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Kata Netizen
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Kata Netizen
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kata Netizen
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kata Netizen
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau