
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Mengapa waktu yang berlalu begitu senyap justru mampu mengubah nilai uang, serta apa maknanya bagi resolusi keuangan kita di awal tahun?
Waktu berjalan cepat, hampir tanpa terasa. Seolah baru kemarin pagi kita membuka mata di hari pertama sebuah tahun, kini pagi lain sudah datang kembali dengan angka kalender yang berbeda. Tahun berganti, lalu berganti lagi. Tanpa suara, tanpa tanda, waktu terus melaju.
Meski demikian, waktu tidak pernah benar-benar diam. Ia mungkin tak berbunyi, tak menegur, apalagi berteriak, tetapi perlahan dan pasti, ia mengubah banyak hal—termasuk nilai uang yang kita pegang.
Coba kita ingat kembali, mengapa uang seratus ribu rupiah di dompet hari ini terasa jauh berbeda dibandingkan sepuluh tahun lalu.
Dulu, selembar uang itu mungkin cukup untuk memenuhi satu troli belanja. Kini, dibawa ke supermarket yang sama, nilainya terasa menyusut. Beberapa liter minyak goreng, satu bungkus sabun cuci, dan uang itu pun habis.
Fenomena ini bukan semata soal harga barang yang naik. Di baliknya, ada hukum alam dalam dunia keuangan yang dikenal sebagai Time Value of Money—sebuah konsep sederhana yang menjelaskan bahwa nilai uang selalu dipengaruhi oleh waktu.
Hakikat Waktu dan Harga Sebuah Penantian
Secara filosofis, Time Value of Money adalah cara manusia memberi makna pada penantian. Kita cenderung lebih menghargai sesuatu yang bisa kita miliki sekarang dibandingkan janji yang baru akan terpenuhi di masa depan. Dalam ilmu perilaku, kecenderungan ini dikenal sebagai temporal preference.
Satu butir telur di tangan hari ini terasa lebih nyata daripada dua butir telur tahun depan. Bukan karena jumlahnya lebih sedikit, melainkan karena masa depan selalu mengandung ketidakpastian. Janji bisa terlupa, kondisi bisa berubah, atau sesuatu yang dijanjikan tak lagi utuh saat tiba waktunya.
Dari sudut pandang ini, imbal hasil dalam investasi sejatinya adalah “upah” atas kesediaan seseorang menunggu dan menghadapi risiko. Orang yang berani menunda kesenangan hari ini, layak mendapatkan nilai lebih di kemudian hari.
Jejak Sejarah Time Value of Money
Cara berpikir semacam ini ternyata bukan produk dunia modern. Jauh sebelum sistem keuangan dikenal seperti sekarang, konsep Time Value of Money sudah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kuno.
Sejarawan ekonomi Michael Hudson mencatat, sekitar empat ribu tahun lalu, para petani di Babilonia telah meminjamkan benih gandum dengan kesepakatan bahwa pengembaliannya harus lebih banyak saat panen tiba.
Mereka memahami bahwa benih bukan sekadar benda mati, melainkan sesuatu yang memiliki potensi tumbuh dan menghasilkan nilai lebih seiring waktu.
Waktu, bagi mereka, bukan hanya deretan hari di kalender, tetapi ruang bagi sebuah bibit untuk bertransformasi menjadi hasil yang lebih bernilai.