Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Fery W
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Fery W adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?

Kompas.com, 11 Januari 2026, 21:49 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Mengapa waktu yang berlalu begitu senyap justru mampu mengubah nilai uang, serta apa maknanya bagi resolusi keuangan kita di awal tahun?

Waktu berjalan cepat, hampir tanpa terasa. Seolah baru kemarin pagi kita membuka mata di hari pertama sebuah tahun, kini pagi lain sudah datang kembali dengan angka kalender yang berbeda. Tahun berganti, lalu berganti lagi. Tanpa suara, tanpa tanda, waktu terus melaju.

Meski demikian, waktu tidak pernah benar-benar diam. Ia mungkin tak berbunyi, tak menegur, apalagi berteriak, tetapi perlahan dan pasti, ia mengubah banyak hal—termasuk nilai uang yang kita pegang.

Coba kita ingat kembali, mengapa uang seratus ribu rupiah di dompet hari ini terasa jauh berbeda dibandingkan sepuluh tahun lalu.

Dulu, selembar uang itu mungkin cukup untuk memenuhi satu troli belanja. Kini, dibawa ke supermarket yang sama, nilainya terasa menyusut. Beberapa liter minyak goreng, satu bungkus sabun cuci, dan uang itu pun habis.

Fenomena ini bukan semata soal harga barang yang naik. Di baliknya, ada hukum alam dalam dunia keuangan yang dikenal sebagai Time Value of Money—sebuah konsep sederhana yang menjelaskan bahwa nilai uang selalu dipengaruhi oleh waktu.

Hakikat Waktu dan Harga Sebuah Penantian

Secara filosofis, Time Value of Money adalah cara manusia memberi makna pada penantian. Kita cenderung lebih menghargai sesuatu yang bisa kita miliki sekarang dibandingkan janji yang baru akan terpenuhi di masa depan. Dalam ilmu perilaku, kecenderungan ini dikenal sebagai temporal preference.

Satu butir telur di tangan hari ini terasa lebih nyata daripada dua butir telur tahun depan. Bukan karena jumlahnya lebih sedikit, melainkan karena masa depan selalu mengandung ketidakpastian. Janji bisa terlupa, kondisi bisa berubah, atau sesuatu yang dijanjikan tak lagi utuh saat tiba waktunya.

Dari sudut pandang ini, imbal hasil dalam investasi sejatinya adalah “upah” atas kesediaan seseorang menunggu dan menghadapi risiko. Orang yang berani menunda kesenangan hari ini, layak mendapatkan nilai lebih di kemudian hari.

Jejak Sejarah Time Value of Money

Cara berpikir semacam ini ternyata bukan produk dunia modern. Jauh sebelum sistem keuangan dikenal seperti sekarang, konsep Time Value of Money sudah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kuno.

Sejarawan ekonomi Michael Hudson mencatat, sekitar empat ribu tahun lalu, para petani di Babilonia telah meminjamkan benih gandum dengan kesepakatan bahwa pengembaliannya harus lebih banyak saat panen tiba.

Mereka memahami bahwa benih bukan sekadar benda mati, melainkan sesuatu yang memiliki potensi tumbuh dan menghasilkan nilai lebih seiring waktu.

Waktu, bagi mereka, bukan hanya deretan hari di kalender, tetapi ruang bagi sebuah bibit untuk bertransformasi menjadi hasil yang lebih bernilai.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Kata Netizen
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Kata Netizen
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Kata Netizen
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan 'P'
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan "P"
Kata Netizen
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Kata Netizen
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Kata Netizen
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Kata Netizen
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kata Netizen
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kata Netizen
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau