
Dari sisi gizi, makanan yang diolah dengan cara dikukus cenderung memiliki kalori yang lebih rendah dibandingkan makanan yang digoreng. Minimnya penggunaan minyak membuat kukusan lebih rendah lemak, sementara kandungan gizinya relatif lebih terjaga.
Umbi-umbian kukus merupakan sumber karbohidrat kompleks yang baik sekaligus mendukung diversifikasi pangan lokal. Sementara itu, kacang-kacangan kukus dapat menjadi sumber protein nabati, vitamin, dan mineral yang penting bagi tubuh.
Dalam Ukuran Rumah Tangga (URT), sumber karbohidrat umumnya mengandung sekitar 175 kalori, 4 gram protein, dan 40 gram karbohidrat. Kandungan ini setara dengan satu gelas nasi (sekitar 100 gram). Jika diterjemahkan ke dalam bentuk kukusan, nilai gizi tersebut bisa diperoleh dari dua buah kentang ukuran sedang (210 gram), satu setengah potong singkong (120 gram), setengah buah talas ukuran sedang (125 gram), atau satu buah ubi jalar kuning ukuran sedang (135 gram).
Data tersebut menunjukkan bahwa rasa kenyang tidak selalu harus bergantung pada nasi. Pilihan pangan lokal yang dikukus pun mampu memberikan energi yang setara.
Untuk buah, pisang kukus—yang sering menggunakan pisang kepok—dalam satu buahnya mengandung sekitar 50 kalori dan 10 gram karbohidrat. Sementara itu, kacang tanah kupas sebanyak dua sendok makan mengandung sekitar 80 kalori, 6 gram protein, 3 gram lemak, dan 8 gram karbohidrat.
Tren Lama yang Kembali Relevan
Di tengah beragam tren makanan yang silih berganti, kemunculan kembali makanan kukusan ke permukaan bisa dipandang sebagai sinyal positif. Dibandingkan makanan yang diolah dengan cara digoreng, kukusan menawarkan pilihan yang lebih ramah bagi kesehatan.
Hal ini menjadi semakin relevan ketika berbagai masalah kesehatan—seperti obesitas, diabetes melitus, hipertensi, hingga kanker—kini tidak lagi mengenal usia. Pola makan yang lebih bijak menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan.
Makanan kukusan mungkin bukan hal baru, tetapi justru di situlah kekuatannya. Sederhana, terjangkau, dan lebih bersahabat bagi tubuh. Tinggal bagaimana kita memadukannya dengan konsep gizi seimbang agar manfaatnya semakin optimal.
Lalu, apa makanan kukusan favoritmu hari ini?
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Makanan Kukusan, Pemain Lama yang Sekarang Mulai Dilirik Kembali"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.