
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ketika banjir datang dan aktivitas di luar rumah terhenti, apa yang bisa kita lakukan agar tetap aman, tenang, dan produktif tanpa mengabaikan kesehatan serta keselamatan keluarga?
“Bulan baru satu, banjir sudah dua kali. Bagaimana ini?”
Kalimat semacam itu rasanya tidak asing, terutama bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Awal tahun yang seharusnya menjadi momen memulai rutinitas justru diwarnai genangan air yang datang berulang kali. Bahkan, dalam satu bulan Januari, banjir bisa terjadi hingga tiga kali.
Situasi ini tentu membingungkan. Bagi pekerja kantor, akses ke tempat kerja terhambat karena jalanan tidak bisa dilalui.
Bagi ibu rumah tangga, tantangannya tidak kalah besar. Kebutuhan harian sulit dipenuhi, sementara kondisi rumah mulai berantakan karena air masuk tanpa permisi.
Di tengah kondisi seperti ini, muncul pertanyaan sederhana namun penting: bagaimana caranya tetap aman, tidak larut dalam kebosanan, dan sebisa mungkin tetap produktif meski harus bertahan di rumah?
Saat Banjir Masuk Rumah, Ini yang Perlu Dilakukan
Pengalaman banjir pertama di bulan Januari 2026 menjadi pengingat berharga bagi saya. Setelah pindah rumah, sempat muncul rasa aman karena posisi rumah yang cukup tinggi. Air seolah tidak mungkin masuk. Namun, perkiraan itu ternyata meleset.
Pagi hari, saat berjalan ke ruang tengah, saya mendapati lantai sudah tergenang. Air perlahan keluar dari sela-sela keramik dan dinding, seperti air mancur kecil yang tak bisa dibendung. Di dapur, kondisi serupa terjadi di dekat wastafel. Bahkan, dinding lantai atas yang belum diplester tampak basah karena air hujan merembes keluar dari sela-selanya.
Tangga dan lantai dapur terendam, sementara air di lantai atas terus bertambah. Hal pertama yang saya lakukan adalah mencabut kabel kulkas dan televisi. Untungnya, tidak ada kabel lain yang menjalar di lantai. Saat itu, saya memilih untuk berhenti melawan air dan menunggu hujan reda. Siang harinya, barulah pembersihan dilakukan perlahan.
Anak-anak saya minta tetap berada di kamar yang masih aman. Mereka saya beri pengertian agar tidak turun dari tempat tidur hingga kondisi memungkinkan. Di luar rumah, jalanan gang sudah terendam hingga setinggi lutut, sementara jalan umum tergenang sekitar 30 sentimeter.
Dari pengalaman tersebut, ada beberapa langkah penting yang bisa dilakukan ketika banjir masuk ke rumah.
Pertama, segera cabut seluruh kabel elektronik yang berada di lantai atau berpotensi terendam air, seperti kulkas, dispenser, dan televisi. Jika banjir cukup parah, mematikan sambungan listrik dan gas menjadi langkah paling aman untuk mencegah korsleting atau risiko tersengat listrik.
Kedua, amankan barang-barang penting seperti dokumen, obat-obatan, dan barang berharga lainnya. Pastikan semuanya disimpan di tempat yang kering dan aman dari genangan air.
Ketiga, apabila air terus naik dan rumah tidak lagi aman, lakukan evakuasi. Jika rumah memiliki dua lantai, berpindahlah ke lantai atas. Jika tidak memungkinkan, mengungsi sementara ke rumah kerabat atau tempat yang lebih aman menjadi pilihan terbaik. Jangan lupa membawa dokumen penting, pakaian, dan obat-obatan yang diperlukan.