Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yayuk CJ
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Yayuk CJ adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Rawon, Lodeh, dan Kenangan: Kisah Depot Asri Bu Saerun Sejak 1950an

Kompas.com, 25 Januari 2026, 10:46 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Membicarakan kuliner hampir selalu menghadirkan cerita yang hangat. Bagi banyak orang, makanan bukan sekadar pengisi perut, melainkan sarana menjaga kebersamaan. Apalagi bersama keluarga, rekan kerja, atau teman lama.

Nah, dari meja makan, obrolan mengalir, kenangan tercipta, dan rasa kerap menjadi pengikat yang paling setia.

Di antara banyak tempat makan yang bermunculan dan tenggelam karena tren, ada pula warung yang tetap bertahan karena satu hal mendasar: rasa yang terjaga. Depot Asri Bu Saerun adalah salah satunya.

Tanpa spanduk mencolok atau konsep kekinian, depot ini berdiri tenang di Jalan Cipto, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Meski tampil bersahaja, langkah pengunjung tak pernah benar-benar sepi. Seolah ada kesepakatan tak tertulis bahwa rasa yang baik memang tak pernah kedaluwarsa.

Sejak era 1950-an, Depot Asri Bu Saerun telah menjadi bagian dari denyut keseharian warga Malang.

Warung ini kerap menjadi tempat singgah untuk sarapan, makan siang, atau sekadar menenangkan perut dan pikiran di sela rutinitas kota.

Sejarahnya berawal dari langkah sederhana. Pada awal 1950an, Bu Saerun berjualan dengan cara dipikul, menyusuri kawasan sekitar Jalan Kaliurang.

Sambutan pelanggan yang hangat membuat lapaknya berpindah dan menetap di perempatan Kaliurang, kawasan yang kini dikenal sebagai Gunung Sari Intan. Barulah pada sekitar tahun 1960-an, depot ini menempati lokasi sekarang di Jalan Cipto, tempat yang masih bertahan hingga hari ini.

Dari masa ke masa, ukuran depot memang tidak besar. Namun kebersihan, kerapian, dan kenyamanan selalu dijaga. Itu jadi sebuah kemewahan kecil yang sering luput dari perhatian, tetapi terasa bagi mereka yang datang berulang kali.

Menu andalan Depot Asri Bu Saerun adalah rawon dan lodeh tahu. Tak sedikit pelanggan yang memilih menikmati keduanya sekaligus dalam satu sajian.

Rawon di sini hadir dengan karakter khas Jawa Timur: kuahnya gelap, gurih, dan berlapis rasa. Potongan dagingnya empuk, terasa benar telah menyerap bumbu hingga ke serat. Ini bukan rawon yang disesuaikan dengan lidah modern, melainkan rawon yang setia pada akarnya.

Namun justru lodeh tahulah yang sering membuat orang kembali. Tahu gembos berukuran jumbo menjadi ciri yang mudah dikenali.

Teksturnya lembut dan menyerap kuah hingga ke bagian terdalam. Meski berbahan sederhana, rasa yang dihasilkan jauh dari kesan biasa.

Bagi saya pribadi, depot ini kerap menjadi pilihan sarapan atau makan siang karena lokasinya yang dekat dengan tempat kerja.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Melihat Mantan Menikah, Ketika Luka Jadi Pelajaran
Melihat Mantan Menikah, Ketika Luka Jadi Pelajaran
Kata Netizen
Pendidikan Gratis, Janji Kebijakan, dan Realitas Keluarga Indonesia
Pendidikan Gratis, Janji Kebijakan, dan Realitas Keluarga Indonesia
Kata Netizen
Mantan Menikah, Saat Undangan Pernikahan Membuka Laci Kenangan
Mantan Menikah, Saat Undangan Pernikahan Membuka Laci Kenangan
Kata Netizen
Bel Sekolah Otomatis dan Pelajaran Berharga dari Guru Berani Mencoba
Bel Sekolah Otomatis dan Pelajaran Berharga dari Guru Berani Mencoba
Kata Netizen
Perpustakaan Keliling dan Upaya Menghidupkan Budaya Baca di Sekolah
Perpustakaan Keliling dan Upaya Menghidupkan Budaya Baca di Sekolah
Kata Netizen
Savana Baluran Musim Hujan: Keindahan, Tantangan, dan Harapan
Savana Baluran Musim Hujan: Keindahan, Tantangan, dan Harapan
Kata Netizen
Ini Cerita dan Potret Usaha Mikro di Bawah Flyover Martadinata
Ini Cerita dan Potret Usaha Mikro di Bawah Flyover Martadinata
Kata Netizen
Ruang Tamu yang Sunyi di Tengah Riuhnya Budaya Ngopi
Ruang Tamu yang Sunyi di Tengah Riuhnya Budaya Ngopi
Kata Netizen
Kecuk dan Perjalanan Panjang Menjaga Nada Tradisi
Kecuk dan Perjalanan Panjang Menjaga Nada Tradisi
Kata Netizen
Ketika Pasar Saham Bergejolak, Apa Artinya bagi Ekonomi Masyarakat?
Ketika Pasar Saham Bergejolak, Apa Artinya bagi Ekonomi Masyarakat?
Kata Netizen
Beban Ekonomi Guru dan Tantangan Pendidikan
Beban Ekonomi Guru dan Tantangan Pendidikan
Kata Netizen
Lebih dari Soal Alat Tulis dan Rapuhnya Jaring Pengaman Sosial
Lebih dari Soal Alat Tulis dan Rapuhnya Jaring Pengaman Sosial
Kata Netizen
Ketika Pertanyaan Anak Menjadi Cermin Cara Dewasa Berpikir
Ketika Pertanyaan Anak Menjadi Cermin Cara Dewasa Berpikir
Kata Netizen
Alasan-alasan Kita Jarang Bertamu ke Rumah Tetangga
Alasan-alasan Kita Jarang Bertamu ke Rumah Tetangga
Kata Netizen
Satu Batik, Banyak Fungsi, dan Busana Lokal yang Tak Pernah Keliru
Satu Batik, Banyak Fungsi, dan Busana Lokal yang Tak Pernah Keliru
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau