
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Membicarakan kuliner hampir selalu menghadirkan cerita yang hangat. Bagi banyak orang, makanan bukan sekadar pengisi perut, melainkan sarana menjaga kebersamaan. Apalagi bersama keluarga, rekan kerja, atau teman lama.
Nah, dari meja makan, obrolan mengalir, kenangan tercipta, dan rasa kerap menjadi pengikat yang paling setia.
Di antara banyak tempat makan yang bermunculan dan tenggelam karena tren, ada pula warung yang tetap bertahan karena satu hal mendasar: rasa yang terjaga. Depot Asri Bu Saerun adalah salah satunya.
Tanpa spanduk mencolok atau konsep kekinian, depot ini berdiri tenang di Jalan Cipto, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Meski tampil bersahaja, langkah pengunjung tak pernah benar-benar sepi. Seolah ada kesepakatan tak tertulis bahwa rasa yang baik memang tak pernah kedaluwarsa.
Sejak era 1950-an, Depot Asri Bu Saerun telah menjadi bagian dari denyut keseharian warga Malang.
Warung ini kerap menjadi tempat singgah untuk sarapan, makan siang, atau sekadar menenangkan perut dan pikiran di sela rutinitas kota.
Sejarahnya berawal dari langkah sederhana. Pada awal 1950an, Bu Saerun berjualan dengan cara dipikul, menyusuri kawasan sekitar Jalan Kaliurang.
Sambutan pelanggan yang hangat membuat lapaknya berpindah dan menetap di perempatan Kaliurang, kawasan yang kini dikenal sebagai Gunung Sari Intan. Barulah pada sekitar tahun 1960-an, depot ini menempati lokasi sekarang di Jalan Cipto, tempat yang masih bertahan hingga hari ini.
Dari masa ke masa, ukuran depot memang tidak besar. Namun kebersihan, kerapian, dan kenyamanan selalu dijaga. Itu jadi sebuah kemewahan kecil yang sering luput dari perhatian, tetapi terasa bagi mereka yang datang berulang kali.
Menu andalan Depot Asri Bu Saerun adalah rawon dan lodeh tahu. Tak sedikit pelanggan yang memilih menikmati keduanya sekaligus dalam satu sajian.
Rawon di sini hadir dengan karakter khas Jawa Timur: kuahnya gelap, gurih, dan berlapis rasa. Potongan dagingnya empuk, terasa benar telah menyerap bumbu hingga ke serat. Ini bukan rawon yang disesuaikan dengan lidah modern, melainkan rawon yang setia pada akarnya.
Namun justru lodeh tahulah yang sering membuat orang kembali. Tahu gembos berukuran jumbo menjadi ciri yang mudah dikenali.
Teksturnya lembut dan menyerap kuah hingga ke bagian terdalam. Meski berbahan sederhana, rasa yang dihasilkan jauh dari kesan biasa.
Bagi saya pribadi, depot ini kerap menjadi pilihan sarapan atau makan siang karena lokasinya yang dekat dengan tempat kerja.