Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Junjung Widagdo
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Junjung Widagdo adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan

Kompas.com, 22 Februari 2026, 11:43 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apakah mungkin kualitas literasi dan numerasi kita yang kerap tertinggal bukan semata soal kurikulum atau kemampuan siswa, melainkan juga tentang cara kita menilai dan membangun fondasi belajar di kelas?

Sejak sepekan terakhir, saya melakukan perubahan dalam metode penilaian. Jika sebelumnya saya menggunakan aplikasi evaluasi daring dengan soal pilihan ganda, kini saya kembali pada penilaian lisan.

Keputusan ini tentu bukan tanpa pertimbangan. Penilaian lisan membutuhkan waktu dan energi lebih besar. Namun, di balik kelelahan itu, saya menemukan sesuatu yang terasa lebih jujur dan autentik.

Kegelisahan saya bermula dari pengalaman pada penilaian daring sebelumnya. Belum sampai sepuluh menit, seluruh soal telah dijawab dengan tingkat akurasi mendekati sempurna.

Padahal, soal-soal tersebut dirancang berbasis keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) yang menuntut analisis.

Sebagai guru yang setiap hari mendampingi mereka di kelas, saya cukup memahami profil kemampuan masing-masing siswa.

Hasil yang terlalu sempurna justru menimbulkan tanda tanya. Bahkan, siswa yang selama ini aktif dan fokus dalam pembelajaran justru memperoleh nilai lebih rendah dibandingkan mereka yang tampak kurang serius saat belajar.

Di titik itulah saya mulai merefleksikan: barangkali persoalannya bukan semata pada materi, melainkan pada pendekatan penilaian yang saya gunakan.

Akhirnya, saya memutuskan untuk kembali pada metode yang lebih konvensional: penilaian lisan.

Siswa maju satu per satu, saya mengajukan pertanyaan, dan mereka menjawab secara langsung. Prosesnya memang tidak secepat penilaian daring, tetapi lebih mampu menggambarkan kemampuan yang sesungguhnya.

Menjaga Autentisitas

Perubahan ini tidak saya lakukan secara spontan. Saya sempat bertanya pada diri sendiri: apakah materi yang saya sampaikan terlalu mudah? Apakah soal yang saya susun kurang menantang? Ataukah ada kemungkinan soal tersebut tersebar lebih awal?

Di era perkembangan teknologi yang sangat cepat, berbagai kemungkinan memang terbuka. Soal bisa saja dibagikan sebelum waktunya atau dipindai untuk memperoleh jawaban secara instan.

Namun, saya memilih untuk tidak terjebak dalam prasangka terhadap siswa. Fokus saya adalah memperbaiki pendekatan penilaian.

Penilaian lisan mungkin dianggap kurang praktis dan tidak sepenuhnya sejalan dengan tren digitalisasi pendidikan. Namun, justru dalam interaksi langsung itulah terjaga autentisitas proses belajar.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau