
Media sosial, dalam banyak hal, membuka percakapan tersebut. Berbagi pengalaman tentang kegagalan, trauma, atau perjuangan menghadapi masalah psikologis kini lebih diterima.
Ketika seseorang berani bercerita, ia sering kali menemukan dukungan dan rasa kebersamaan. Banyak orang merasa tidak lagi sendirian dalam menghadapi luka masing-masing.
Rasa senasib sepenanggungan inilah yang membuat sebagian orang rela membuka ruang privatnya. Cerita personal menjadi jembatan untuk terhubung dengan komunitas yang lebih luas.
Antara Ekspresi dan Kurasi
Di sisi lain, media sosial juga mendorong kita untuk menjadi “sutradara” atas kehidupan sendiri. Setiap momen—bahkan kesedihan dan kegagalan—dapat terasa seperti bagian dari narasi besar yang layak ditampilkan.
Jika dahulu menangis di kamar adalah peristiwa privat, kini tangisan bisa direkam, diberi filter, disertai kutipan puitis, dan diunggah sebagai konten. Ada kecenderungan untuk mengemas emosi agar tetap tampak estetik dan terkurasi.
Sebagian mungkin berpendapat bahwa fitur seperti Close Friends atau akun privat sudah cukup menyerupai buku harian fisik.
Namun, ruang digital tetap memiliki karakter berbeda. Ia melibatkan audiens, meski terbatas. Selalu ada kemungkinan tangkapan layar atau penyebaran ulang. Bahkan dalam ruang yang lebih sempit sekalipun, kita tetap cenderung menyunting kata-kata agar citra diri tetap terjaga.
Perbedaan mendasarnya terletak pada siapa yang memegang kunci. Pada buku harian bergembok, kunci itu benar-benar milik kita seorang diri. Dalam ruang digital, kunci tersebut dibagi, meski hanya kepada lingkaran kecil.
Merawat Kembali Ruang Sunyi
Hilangnya tradisi menulis di buku harian fisik mungkin bukan sekadar perubahan medium, melainkan perubahan cara kita berdialog dengan diri sendiri. Di tengah arus informasi yang tak pernah berhenti, momen hening menjadi semakin langka.
Barangkali, sesekali kita perlu kembali menciptakan ruang yang tidak terhubung dengan notifikasi apa pun.
Bukan untuk menolak kemajuan teknologi, melainkan untuk melatih kejujuran pada diri sendiri berbicara tanpa filter, tanpa ekspektasi respons, tanpa bayang-bayang penilaian publik.
Sebab tidak semua cerita perlu dipublikasikan. Ada pengalaman, luka, dan bahkan kebahagiaan yang mungkin justru lebih bermakna ketika disimpan dalam ruang yang hanya diketahui oleh diri kita sendiri dan Tuhan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Matinya Buku Harian Bergembok, Lahirnya Generasi Oversharing"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.