Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompasiana News
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Kompasiana News adalah seorang yang berprofesi sebagai Editor. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa

Kompas.com, 23 Februari 2026, 11:32 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apa yang sebenarnya berubah dari praktik perjodohan hari ini? Apakah itu masih identik dengan paksaan atau sedang berevolusi menjadi ruang dialog?

Dari kumpulan artikel yang terkumpul dari Topik Pilihan yang diusulkan oleh Kompasianer Latipah Rahman, terlihat jelas bahwa perjodohan tidak lagi berdiri sebagai praktik hitam-putih. Perjodohan tidak lagi sepenuhnya tradisional, tetapi juga belum sepenuhnya lepas dari nilai lama.

Nah, yang menarik justru banyak konten memperlihatkan bahwa perjodohan bukan lagi instrumen kontrol, melainkan pintu perkenalan. Orang tua berperan sebagai penghubung, bukan penentu akhir.

Perjodohan zaman sekarang bukan sekadar praktik mencari pasangan tetapi cermin perubahan sosial: bagaimana keluarga beradaptasi, bagaimana individu memperjuangkan suara, dan bagaimana cinta didefinisikan ulang.

Berikut ini kami coba rangkum beberapa konten yang mengikuti Topik Pilihan yang diusulkan oleh Kompasianer Latipah Rahman.

1. "Kapan Kawin" Khas Lebaran dan Upaya Perjodohan

Setiap momentum Lebaran ada satu hal yang nyaris tak terhindarkan: pertanyaan "Kapan?". Mulai dari kapan lulus, kapan kerja, hingga kapan kawin.

Kompasianer Nurul Rahmawati mengisahkan bagaimana dulu juga menjadi "korban" berondongan pertanyaan tersebut. Apalagi sebagai perempuan urban usia 20an yang sedang fokus membangun karier, pertanyaan tentang pernikahan terasa menjengkelkan dan terlalu mencampuri urusan pribadi.

Namun seiring waktu, sudut pandangnya berubah, kekhawatiran terhadap pergaulan anak muda di kota besar, rasa ingin memastikan pasangan yang "aman" dan dikenal latar belakangnya.

"Kocak juga kalau diingat-ingat, ternyata bakat mak comblang mengalir dalam DNA-ku, yha. Sayangnya, aku ogah mengkapitalisasi menjadi bisnis," tulis Kompasianer Nurul Rahmawati. (Baca selengkapnya)

2. Sudah Jarang tapi Ternyata Perjodohan Masih Ada

Perjodohan, tulis Kompasianer Enny Ratnawati A., tidak selalu identik dengan hal buruk atau ketidakmampuan mencari pasangan belaka. Perjodohan kadang terjadi karena memang diinginkan.

Hal tersebut karena dialami langsung oleh seorang teman Kompasianer Enny Ratnawati A. yang menikah melalui rekomendasi setelah berdoa dan meminta petunjuk.

Meski pernikahannya telah berjalan 14 tahun dan dikaruniai dua anak, perjalanan mereka tidak selalu mulus. Perbedaan suku, kebiasaan, hingga masalah ekonomi berat sempat menjadi ujian.

Bukan hanya itu, Kompasianer Enny Ratnawati A. juga membagikan pengalaman menjodohkan dua orang yang akhirnya batal karena tidak merasa cocok saat bertemu langsung. (Baca selengkapnya)

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Kata Netizen
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Kata Netizen
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Kata Netizen
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
Kata Netizen
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Kata Netizen
Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?
Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?
Kata Netizen
Pelajaran Ekologi dari Seekor Monyet di Gunung Andong
Pelajaran Ekologi dari Seekor Monyet di Gunung Andong
Kata Netizen
Kok 'Gaji Sesuai UMR' Menjadi Benefit dalam Lowongan Kerja?
Kok "Gaji Sesuai UMR" Menjadi Benefit dalam Lowongan Kerja?
Kata Netizen
Merawat Hobi di Tengah Budaya FOMO
Merawat Hobi di Tengah Budaya FOMO
Kata Netizen
Bu Tuminah dan Segelas Jamu yang Menolak Lekang oleh Zaman
Bu Tuminah dan Segelas Jamu yang Menolak Lekang oleh Zaman
Kata Netizen
Ketika Pillow Talk Tak Lagi Menjadi Pengantar Tidur
Ketika Pillow Talk Tak Lagi Menjadi Pengantar Tidur
Kata Netizen
'Osob Kiwalan', Bahasa Identitas Orang Malang
"Osob Kiwalan", Bahasa Identitas Orang Malang
Kata Netizen
Lulusan SMP Berprestasi Masih Jarang Memilih SMK, Kenapa?
Lulusan SMP Berprestasi Masih Jarang Memilih SMK, Kenapa?
Kata Netizen
Mengapa Lingkaran Pertemanan Makin Kecil Saat Dewasa?
Mengapa Lingkaran Pertemanan Makin Kecil Saat Dewasa?
Kata Netizen
Bapana, Tradisi Memanah Ikan di Tengah Masyarakat Bajau
Bapana, Tradisi Memanah Ikan di Tengah Masyarakat Bajau
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau