
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah kebahagiaan benar-benar perlu diumumkan agar terasa sah? Apakah ketenangan yang lahir ketika sebagian cerita hidup kita tetap disimpan dalam ruang yang lebih pribadi?
Sebagai generasi yang berada di ujung generasi milenial, kita barangkali termasuk kelompok yang cukup beruntung. Kita sempat melewati beberapa fase kehidupan yang sangat berbeda tiga zaman dengan rasa yang tidak sama, yang perlahan membentuk cara kita memandang hidup hari ini.
Ada masa ketika kehidupan berjalan tanpa gawai di genggaman. Ada masa ketika komunikasi jarak jauh terasa begitu berharga melalui suara di telepon. Dan kini, ada masa ketika hampir setiap momen kehidupan dapat dibagikan seketika melalui media sosial.
Perubahan itu tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi, tetapi juga cara kita merasakan kebahagiaan.
Ketika Hidup Dijalaninya Sepenuhnya
Fase pertama adalah masa ketika hidup dijalani tanpa kehadiran gadget yang selalu menyertai. Pada masa itu, hari-hari terasa sederhana sekaligus utuh.
Setiap detik seolah dijalani dengan penuh kesadaran. Kita hadir sepenuhnya dalam momen—saat bermain bersama teman, bercakap-cakap, tertawa lepas, bahkan ketika merasakan kesedihan. Karena tidak sibuk mendokumentasikan, kita benar-benar mengalami setiap peristiwa yang terjadi.
Perasaan bahagia maupun sedih terasa apa adanya. Emosi hadir tanpa perlu mendapatkan persetujuan dari orang lain. Tidak ada penilaian dari publik yang luas, tidak ada kebutuhan untuk menunjukkan bahwa hidup kita baik-baik saja.
Barangkali itulah sebabnya kenangan dari masa itu terasa begitu hangat hingga sekarang. Kita tidak sekadar mengingat gambar peristiwanya, tetapi juga mengingat rasa yang menyertainya.
Ketika Suara Menjadi Penghubung Rindu
Kemudian datang fase berikutnya, ketika teknologi komunikasi mulai memudahkan orang untuk saling terhubung melalui telepon.
Pada masa itu, jarak tidak lagi menjadi penghalang mutlak. Kita dapat saling berkabar, mendengar suara orang yang dirindukan dari ujung sana. Percakapan sederhana bisa meninggalkan kesan yang mendalam.
Ada jeda dalam komunikasi. Ada waktu menunggu. Dan justru di dalam jeda itulah tersimpan kehangatan hubungan.
Tidak semua hal harus diceritakan kepada banyak orang. Tidak semua rasa perlu diumumkan. Hubungan terasa cukup dimiliki oleh mereka yang terlibat di dalamnya.
Kesederhanaan itu membuat hidup terasa lebih ringan.