
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Seberapa sering kita menerima kantong plastik saat berbelanja tanpa benar-benar memikirkannya? Mungkinkah perubahan kebiasaan menjaga lingkungan justru dimulai dari hal sederhana yang kita temui sehari-hari, seperti sebuah tulisan kecil di pintu toko?
Kesadaran terhadap lingkungan rupanya tidak selalu lahir dari ruang seminar atau kampanye besar. Kadang, ia hadir secara sederhana di tengah aktivitas harian masyarakat di toko kelontong, di antara suara kardus yang dipindahkan, botol kaca yang saling beradu pelan, dan antrean pembeli yang sibuk menghitung belanjaan di dekat kasir.
Beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah tulisan menarik di sebuah toko kelontong di kota kecamatan.
Toko itu cukup dikenal karena menjual berbagai kebutuhan rumah tangga dengan harga yang relatif lebih terjangkau dibanding toko lain di sekitarnya.
Tulisan tersebut dipasang di sebelah kanan pintu masuk dengan latar biru dan huruf putih yang cukup besar sehingga mudah terlihat bahkan dari kejauhan. Kalimatnya sederhana:
“Bawa Kantong Belanja Sendiri Yuk!”
Di bawahnya ada tambahan tulisan yang terasa akrab dan hangat:
“Yang Belum Dapat Tas Belanja, Konfirmasi Nggih.”
Kalimat itu tidak panjang dan tidak terdengar seperti slogan formal. Namun justru karena kesederhanaannya, pesan tersebut terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Orang-orang datang ke toko itu tentu dengan tujuan praktis: berbelanja lebih hemat. Minyak goreng, telur, sabun cuci, kopi sachet, gula, hingga mi instan yang sedang diskon terasa jauh lebih penting dibanding memikirkan persoalan sampah plastik atau krisis lingkungan global.
Namun, justru di ruang sederhana seperti itulah perubahan sering kali bergerak perlahan.
Sebagian pembeli tampak berhenti sejenak membaca tulisan tersebut. Ada yang terlihat berpikir, mengapa kini kantong belanja tidak lagi otomatis diberikan seperti biasanya? Mengapa harus konfirmasi?
Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti itu mungkin terdengar sepele. Tetapi dari situlah kesadaran mulai tumbuh. Orang perlahan mulai memahami bahwa plastik bukan lagi sesuatu yang hadir tanpa perlu dipikirkan. Ia mulai dianggap sebagai benda yang penggunaannya patut dipertimbangkan.
Yang menarik, pesan itu disampaikan dengan cara yang sangat membumi. Penggunaan kata “nggih” menghadirkan kesan sopan dan akrab, seolah ada seseorang yang sedang mengingatkan dengan halus, bukan memerintah.
Dalam kehidupan masyarakat kita, pendekatan yang hangat seperti itu sering kali lebih mudah diterima dibanding larangan yang terlalu keras.