
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Tulisan kecil tersebut secara tidak langsung menciptakan rasa enggan untuk terus meminta kantong plastik tambahan.
Tidak ada ancaman, tidak ada aturan yang menghakimi, hanya sebuah ajakan sederhana yang perlahan membuat orang berpikir ulang tentang kebiasaan sehari-hari.
Kesadaran seperti ini terasa penting karena isu lingkungan sering kali terdengar jauh dari kehidupan masyarakat kecil. Pembicaraan tentang pengurangan sampah plastik lebih sering hadir dalam seminar, kampanye media sosial, atau diskusi formal yang terkadang terasa tidak dekat dengan keseharian warga.
Padahal, plastik justru hadir paling dekat dengan mereka.
Ia ada bersama cabai seperempat kilogram, bawang secukupnya, minuman dingin yang dibawa pulang, atau jajanan anak sekolah yang dibungkus cepat sebelum bel masuk berbunyi. Plastik telah menjadi bagian yang begitu biasa dari kehidupan sehari-hari hingga sering kali luput dari perhatian.
Melihat tulisan itu, saya membayangkan sesuatu yang sederhana: bagaimana jika ajakan serupa dipasang di lebih banyak kios dan toko kecil? Bagaimana jika masyarakat mulai terbiasa membawa tas belanja sendiri, meski hanya tas kain sederhana yang disimpan di motor atau di dalam tas sehari-hari?
Mungkin dampaknya tidak langsung terlihat dalam waktu singkat. Namun perlahan, kebiasaan kecil itu bisa mengurangi jumlah plastik yang berakhir di pasar, selokan, halaman rumah, hingga sungai-sungai yang selama ini diam menerima kiriman sampah dari aktivitas harian kita.
Perubahan besar memang tidak selalu lahir dari kebijakan yang terdengar megah. Kadang, ia justru tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Dari tulisan sederhana yang dibaca setiap hari. Dari kesadaran kecil untuk tidak selalu meminta kantong baru setiap kali berbelanja.
Menariknya lagi, masyarakat kita sebenarnya pernah hidup sangat dekat dengan kebiasaan yang lebih ramah lingkungan.
Dahulu, orang pergi ke pasar membawa keranjang bambu, tas kain, atau kantong anyaman sendiri. Belanjaan dibungkus daun pisang tanpa dianggap merepotkan.
Namun seiring waktu, budaya instan perlahan mengubah kebiasaan itu. Plastik menjadi simbol kepraktisan: murah, ringan, dan tersedia di mana-mana. Tanpa terasa, kebiasaan membawa kantong sendiri pun perlahan menghilang dan digantikan budaya sekali pakai.
Karena itu, tulisan kecil di pintu toko tadi terasa seperti pengingat akan sesuatu yang sebenarnya pernah akrab dengan kehidupan kita. Bahwa membawa tas belanja sendiri bukanlah kebiasaan baru, melainkan kebiasaan lama yang perlahan terlupakan.
Barangkali memang seperti itulah perubahan bekerja. Tidak selalu melalui kampanye besar atau pidato panjang, tetapi dari sebuah tulisan sederhana yang dibaca orang sambil membawa minyak goreng, telur, dan kebutuhan harian mereka pulang.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Tulisan "Kecil" di Pintu Toko Itu"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang