
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ketika mengenang kembali orang-orang yang hadir pada awal perjalanan karier atau pendidikan, mungkin tanpa disadari bukan hanya belajar dari kita, tetapi juga ikut membentuk siapa diri kita hari ini.
Nah, pertanyaannya adalah sejauh mana hubungan antara dosen dan mahasiswa sebenarnya menjadi ruang untuk bertumbuh bersama?
Ruang seminar hari itu terasa sedikit lebih dingin dari biasanya. Di depan kelas, di bawah sorotan proyektor yang menampilkan data, tabel, dan berbagai bagan penelitian, seorang mahasiswa berdiri dengan percaya diri.
Suaranya terdengar jelas, argumennya tersusun rapi, dan ia menjawab setiap pertanyaan dari para penguji dengan tenang.
Saya duduk di balik meja penguji, memandangi mahasiswa tersebut sambil sesekali membuka lembar penilaian di hadapan saya. Dari luar, mungkin saya tampak seperti dosen pada umumnya: serius, fokus, dan sesekali mengangguk mengikuti jalannya presentasi.
Namun di dalam hati, ada perasaan yang sulit dijelaskan.
Ada rasa bangga yang begitu besar melihat perkembangan mereka. Tetapi pada saat yang sama, terselip pula rasa haru yang datang perlahan. Sebuah kesadaran bahwa perjalanan yang pernah dimulai bersama kini hampir sampai pada salah satu garis akhirnya.
Hari itu adalah seminar hasil bagi mahasiswa angkatan 2022.
Bagi sebuah perguruan tinggi, momen seperti ini mungkin merupakan bagian dari kalender akademik yang rutin berlangsung setiap semester. Sebuah tahapan sebelum mahasiswa melangkah menuju wisuda.
Namun bagi saya, angkatan 2022 memiliki arti yang berbeda.
Mereka adalah mahasiswa pertama yang saya dampingi sejak hari pertama saya menjalani profesi sebagai dosen.
Melihat mereka satu per satu memasuki tahap akhir perkuliahan membuat saya menyadari bahwa waktu ternyata bergerak jauh lebih cepat daripada yang kita bayangkan.
Tanpa terasa, saya sedang menyaksikan bagian penting dari perjalanan hidup saya sendiri. Ingatan saya pun melayang ke beberapa tahun lalu, saat pertemuan pertama kami terjadi.
Kala itu mereka adalah mahasiswa baru yang datang dengan berbagai harapan dan kecemasan. Wajah-wajah yang masih tampak polos, langkah yang masih ragu-ragu, dan sorot mata yang penuh rasa ingin tahu tentang dunia kampus yang akan mereka jalani.
Namun yang menarik, saat itu bukan hanya mereka yang sedang beradaptasi.