
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Banyak orang memiliki cara masing-masing untuk menyiapkan masa depan. Sebagian memilih menyimpan dana di rekening bank, sebagian lainnya berinvestasi pada emas, tanah, atau instrumen keuangan lainnya.
Namun, bagi saya, menabung tidak selalu harus berupa angka yang tersimpan di buku tabungan.
Saya justru memilih cara yang sederhana dan sangat dekat dengan kehidupan pedesaan, yaitu membeli dua ekor domba betina.
Dengan modal sekitar Rp3 juta, saya membeli dua ekor bibit domba untuk dipelihara di kampung halaman. Domba-domba tersebut dirawat oleh saudara yang tinggal di desa, tempat ketersediaan rumput dan pakan alami masih melimpah.
Selain lingkungan yang mendukung, keberadaan keluarga yang memiliki waktu dan pengalaman merawat ternak menjadi pertimbangan penting dalam mengambil keputusan ini.
Bagi saya, langkah tersebut memberi ketenangan tersendiri. Uang yang semula hanya berupa angka berubah menjadi aset riil yang terus tumbuh dan berkembang.
Di tengah kondisi ekonomi yang sering berubah, memiliki aset produktif seperti ternak terasa menjadi salah satu bentuk diversifikasi yang menarik.
Ketika nilai mata uang berfluktuasi, aset riil sering kali tetap memiliki nilai ekonomi. Karena itulah saya merasa semakin mantap menjadikan peternakan kecil ini sebagai salah satu bentuk investasi keluarga.
Memilih domba betina pun bukan tanpa alasan. Kemampuan reproduksinya menjadi modal penting dalam pengembangan populasi ternak. Dari langkah sederhana itulah saya berharap ketahanan ekonomi keluarga dapat tumbuh secara perlahan.
Komunikasi dengan saudara di kampung juga semakin erat. Hampir setiap pekan saya memantau perkembangan ternak melalui telepon atau pesan singkat. Tanpa disadari, investasi kecil ini juga memperkuat hubungan kekeluargaan yang selama ini terjalin.
Mengandalkan Sistem Nengah yang Sudah Lama Dikenal
Kerja sama yang kami gunakan dikenal dengan istilah sistem nengah, sebuah pola bagi hasil yang cukup lazim ditemukan di pedesaan.
Dalam sistem ini, saya menyediakan modal berupa pembelian ternak, sedangkan saudara saya bertanggung jawab terhadap pemeliharaan sehari-hari. Keuntungan yang diperoleh dari hasil pengembangbiakan nantinya dibagi secara proporsional.
Skema seperti ini tumbuh dari budaya saling percaya dan gotong royong yang telah lama hidup di masyarakat desa.
Jika proses pemeliharaan berjalan dengan baik, dua ekor domba betina tersebut diharapkan dapat berkembang biak. Seekor indukan biasanya melahirkan satu hingga dua anak, bahkan lebih.