
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Sebagai seorang dosen perempuan, saya merasakan bagaimana ekspresi wajah yang cenderung netral kadang memunculkan kesalahpahaman. Di satu sisi, saya perlu menjaga profesionalisme dan kewibawaan ketika mengajar.
Namun di sisi lain, terdapat harapan sosial yang seolah menghendaki perempuan untuk selalu tampil ramah, hangat, dan murah senyum.
Ketika ekspresi alami tidak sesuai dengan ekspektasi tersebut, kesalahpahaman pun mudah muncul.
Pertanyaannya, mengapa label semacam ini lebih sering melekat pada perempuan dibandingkan laki-laki?
Standar yang Berbeda
Sejak kecil, banyak perempuan dibesarkan dengan nilai-nilai yang menekankan pentingnya bersikap menyenangkan, ramah, dan mudah berkompromi. Senyum menjadi bagian dari simbol keramahan yang diharapkan hadir setiap saat.
Akibatnya, masyarakat secara tidak sadar membentuk ekspektasi bahwa perempuan sebaiknya selalu tampak menyenangkan secara visual. Ketika seorang perempuan sedang lelah, berpikir serius, atau sekadar menikmati waktunya sendiri tanpa tersenyum, tidak jarang muncul penilaian negatif.
Sebaliknya, ketika laki-laki menunjukkan ekspresi yang sama, respons yang muncul sering kali berbeda.
Seorang dosen laki-laki, manajer, atau rekan kerja pria yang berjalan dengan wajah datar biasanya dianggap sedang fokus, serius, atau memikirkan sesuatu yang penting. Jarang ada yang menyuruh mereka tersenyum.
Namun perempuan yang menampilkan ekspresi serupa kadang justru mendapat penilaian sebagai pribadi yang kurang ramah, terlalu serius, bahkan dianggap sedang dalam suasana hati yang buruk.
Perbedaan cara pandang inilah yang menunjukkan adanya standar yang belum sepenuhnya setara.
Kerja Emosional yang Tidak Selalu Terlihat
Dalam keseharian, banyak perempuan yang secara tidak sadar melakukan "kerja emosional" tambahan agar tidak disalahpahami.
Di lingkungan profesional maupun akademis, perempuan dengan ekspresi wajah yang tegas kadang merasa perlu berbicara dengan intonasi yang lebih ceria, menambahkan emoji pada pesan singkat agar tidak dianggap marah, atau sengaja tersenyum sebelum memulai rapat agar suasana terasa lebih nyaman.
Hal-hal kecil tersebut mungkin tampak sepele. Namun jika dilakukan terus-menerus, ada energi yang harus dikeluarkan demi memenuhi ekspektasi orang lain.