
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Sepak bola merupakan olahraga yang memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia. Dari kota hingga pelosok desa, permainan ini selalu mampu menghadirkan kegembiraan dan menyatukan berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Popularitas sepak bola membuat saya teringat pada masa kecil dahulu. Saat itu, halaman rumah yang cukup luas atau petakan sawah yang mengering selepas panen sering menjadi arena bermain yang sederhana namun menyenangkan.
Kini, zaman telah berubah. Kehadiran teknologi digital dan semakin padatnya pembangunan membuat ruang bermain anak-anak semakin terbatas.
Banyak lapangan yang dahulu menjadi tempat berlarian kini berganti fungsi menjadi bangunan dan kawasan permukiman. Tidak sedikit anak-anak yang akhirnya lebih akrab dengan gawai dibandingkan dengan permainan di luar rumah.
Lapangan yang Berkurang dan Ruang Hijau yang Masih Bertahan
Perubahan tersebut kadang menghadirkan rasa prihatin. Kesempatan anak-anak untuk bermain bebas di ruang terbuka semakin berkurang.
Aktivitas di luar rumah perlahan tergeser oleh berbagai hiburan digital yang tersedia di dalam genggaman.
Karena itulah, saya merasa senang ketika pulang ke Kabupaten Garut. Hampir setiap akhir pekan, saya melakukan perjalanan dari Kota Bandung menuju Tarogong Kaler.
Selain menjadi momen melepas penat setelah rutinitas pekerjaan, perjalanan ini juga memberi kesempatan untuk menikmati suasana kampung halaman.
Salah satu tempat yang hampir selalu saya singgahi adalah Alun-Alun Tarogong Garut. Ruang publik ini cukup luas, dikelilingi pepohonan rindang, serta terasa bersih dan nyaman. Udara pegunungan yang sejuk membuat siapa pun betah berlama-lama di sana.
Namun, yang paling menarik perhatian saya bukan hanya suasananya, melainkan pemandangan anak-anak yang memanfaatkan lapangan alun-alun sebagai arena bermain.
Cerita Balbalan dan Bola Plastik yang Membawa Kenangan
Setiap kali singgah, saya hampir selalu melihat anak-anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama berkumpul dengan penuh semangat.
Mereka bermain sepak bola, tetapi bukan menggunakan bola standar. Yang mereka gunakan hanyalah bola plastik berwarna-warni.
Pemandangan sederhana itu seketika membawa ingatan saya kembali pada masa kecil. Permainan yang akrab disebut "balbalan" itu ternyata masih hidup dan dimainkan oleh generasi sekarang.