
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah prestasi seorang anak hanya dapat diukur dari peringkat dan angka yang tertulis di dalam rapor?
Malam sebelum pembagian rapor, sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponsel saya. Pengirimnya adalah salah seorang siswa. Awalnya saya mengira ada hal penting yang berkaitan dengan kegiatan sekolah atau urusan administrasi yang belum selesai.
Namun, setelah membuka pesan tersebut, saya justru menemukan pertanyaan sederhana yang membuat saya tersenyum sekaligus merenung.
"Bapak, besok bagi rapor ada ranking, Pak?"
Sebenarnya saya merasa pertanyaan itu kurang tepat ditujukan kepada saya. Sebab, saya bukan wali kelasnya dan tidak memiliki kewenangan terkait pembagian rapor maupun pemeringkatan siswa.
Oleh karena itu, saya menyarankan agar ia menanyakan langsung kepada wali kelasnya yang tentu lebih mengetahui.
Namun rupanya ia tidak melakukannya. Entah karena sungkan atau merasa lebih nyaman bertanya kepada saya, ia tetap menunggu jawaban yang saya berikan.
Saya pun menjelaskan bahwa saat ini pemeringkatan seperti yang dulu umum dilakukan tidak lagi menjadi fokus utama dalam pembagian rapor.
Saya kira jawaban itu sudah cukup. Ternyata tidak. Beberapa menit kemudian, ia kembali mengirim pesan.
"Serius, Pak?" Disusul dengan pertanyaan lain. "Gak ada ranking kayak semester kemarin?"
Saat itulah saya mulai memahami bahwa yang ia cari bukan sekadar informasi. Ada kegelisahan yang sedang ia sembunyikan.
Tidak lama kemudian, ia mengungkapkan alasannya.
"Takut rank-nya turun, Pak."
Saya tersenyum kecil membaca pesan itu. Rupanya yang membuatnya cemas bukanlah angka nilai semata, melainkan posisi yang mungkin ia tempati di kelas.
Padahal, sekolah kami tidak mencantumkan peringkat kelas secara resmi di dalam rapor. Jika pun ada data pemeringkatan, biasanya hanya digunakan oleh wali kelas untuk kebutuhan tertentu.
Namun dari percakapan singkat itu, saya menangkap sesuatu yang menarik. Di usia mereka, peringkat masih memiliki arti yang besar.
Bukan semata-mata karena angka tersebut menentukan siapa diri mereka, melainkan karena mereka melihatnya sebagai hasil dari usaha yang telah dilakukan selama satu semester.
Di satu sisi, kegelisahan itu menunjukkan adanya semangat untuk berprestasi. Tetapi di sisi lain, saya berharap anak-anak tidak hanya memandang keberhasilan dari urutan angka. Sebab belajar bukanlah perlombaan yang selalu harus menghasilkan posisi pertama.
Ada banyak hal yang tidak tercermin dalam sebuah peringkat: kerja keras, kedisiplinan, kejujuran, kemampuan bangkit setelah gagal, serta keberanian untuk terus mencoba.