
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Dari tahun ke tahun, pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) selalu menghadirkan pemandangan yang hampir serupa.
Orangtua dan anak datang bersama ke sekolah tujuan, membawa berkas, harapan, sekaligus kecemasan yang tidak selalu tampak di wajah mereka.
Saya dapat menyaksikan suasana itu secara langsung karena ikut terlibat dalam pelaksanaan SPMB di sekolah tempat saya mengajar.
Selama proses berlangsung, saya melihat bukan hanya antrean calon murid, tetapi juga berbagai cerita yang menyertai perjalanan mereka.
Tahap pertama yang umumnya dilalui adalah verifikasi berkas. Pada tahap ini, pengalaman setiap keluarga bisa sangat berbeda. Ada yang prosesnya berjalan cepat karena seluruh persyaratan telah lengkap.
Namun, tidak sedikit pula yang harus pulang terlebih dahulu karena masih ada dokumen yang kurang atau perlu diperbaiki.
Sebagian harus kembali ke sekolah asal, mengurus surat tertentu di dinas terkait, atau melengkapi dokumen lain yang dipersyaratkan.
Bagi mereka, proses penerimaan murid baru ternyata bukan sekadar mengisi formulir, melainkan juga menguji kesabaran dan ketelitian.
Situasi seperti itu juga menjadi pengalaman yang disaksikan oleh keluarga lain. Ada yang melihat proses berjalan lancar bagi sebagian peserta, sementara di sisi lain ada keluarga yang harus berjuang lebih keras agar dapat melanjutkan ke tahap berikutnya.
Bagi keluarga yang mengalami kendala, orangtua biasanya menjadi pihak yang paling sibuk mengurus berbagai kebutuhan administrasi. Namun, anak pun ikut menyaksikan seluruh proses tersebut.
Mereka melihat bagaimana ayah atau ibunya berusaha mencari solusi, meluangkan waktu, mengeluarkan tenaga, bahkan mungkin menahan rasa lelah demi memenuhi persyaratan yang diperlukan.
Tanpa disadari, pengalaman itu menjadi pembelajaran tersendiri bagi anak. Mereka belajar bahwa setiap tujuan membutuhkan usaha, dan tidak semua persoalan dapat diselesaikan secara instan.
Setelah verifikasi selesai, proses berlanjut pada tahap pemilihan sekolah dan jalur penerimaan. Ada jalur domisili, afirmasi, mutasi, maupun prestasi.
Pada tahap inilah orangtua dan anak kembali berdiskusi, mempertimbangkan berbagai kemungkinan agar memperoleh sekolah yang sesuai dengan harapan.
Ketika akhirnya diterima di sekolah tujuan, tentu rasa syukur menyelimuti seluruh keluarga. Kebahagiaan itu bukan hanya dirasakan oleh anak, tetapi juga oleh orangtua, saudara, bahkan kerabat yang mengikuti proses tersebut sejak awal.