Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Syahrial
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Syahrial adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Lulusan SMP Berprestasi Masih Jarang Memilih SMK, Kenapa?

Kompas.com, 28 Juni 2026, 18:00 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Mengapa banyak siswa SMP yang memiliki prestasi akademik maupun nonakademik lebih memilih melanjutkan ke SMA? Apakah hal itu semata-mata karena pilihan karier, atau ada faktor lain dalam sistem penerimaan yang turut memengaruhi keputusan mereka?

Setiap musim Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), saya selalu menyaksikan dinamika yang hampir serupa. Berkas pendaftaran terus berdatangan, statistik calon peserta didik berubah dari hari ke hari, tetapi ada satu pertanyaan yang terus muncul di benak saya.

Mengapa lulusan SMP yang memiliki rekam jejak prestasi—baik juara olimpiade, debat, olahraga, maupun berbagai kompetisi tingkat provinsi dan nasional—lebih banyak memilih SMA dibandingkan SMK?

Sebagai kepala sekolah di sebuah SMK negeri, fenomena ini menjadi bahan refleksi yang terus berulang setiap tahun. Di satu sisi, pemerintah terus mendorong penguatan pendidikan vokasi melalui berbagai program, peningkatan sarana prasarana, hingga kampanye yang menegaskan bahwa SMK merupakan pilihan yang mampu menghasilkan lulusan siap kerja dan kompetitif.

Namun, di sisi lain, masih ada tantangan pada tahap awal, yakni bagaimana sistem penerimaan mampu menghadirkan rasa percaya diri bagi siswa-siswa berprestasi untuk memilih SMK sebagai tujuan pendidikan berikutnya.

Persepsi yang Terbentuk Sejak Awal Pendaftaran

Jika mencermati petunjuk teknis (juknis) SPMB, terdapat perbedaan yang cukup terlihat antara mekanisme penerimaan di SMA dan SMK.

Pada jenjang SMA, masyarakat mengenal adanya Jalur Prestasi yang berdiri sebagai salah satu jalur penerimaan tersendiri, berdampingan dengan jalur domisili, afirmasi, maupun mutasi.

Keberadaan jalur tersebut memberi sinyal yang cukup kuat bahwa prestasi akademik maupun nonakademik memperoleh ruang khusus dalam proses seleksi.

Sementara itu, pada sebagian mekanisme penerimaan SMK, jalur yang tersedia umumnya terdiri atas Jalur Reguler, Afirmasi, dan Mutasi. Prestasi memang tetap diperhitungkan, tetapi diintegrasikan sebagai komponen penilaian dalam jalur reguler.

Secara administratif, mekanisme tersebut tentu memiliki dasar dan pertimbangannya sendiri. Namun dari sudut pandang masyarakat, terutama orang tua dan calon peserta didik, penyajian informasi semacam ini dapat membentuk persepsi yang berbeda.

Tidak sedikit yang kemudian menganggap bahwa SMA menyediakan ruang yang lebih jelas bagi siswa berprestasi, sedangkan di SMK penghargaan terhadap prestasi tidak tampak secara eksplisit.

Kepastian Menjadi Pertimbangan

Saya memahami bahwa dalam sistem penerimaan SMK, prestasi tetap memiliki nilai tambah. Piagam penghargaan dapat dikonversi menjadi poin yang kemudian digabungkan dengan nilai rapor maupun hasil tes sesuai ketentuan yang berlaku.

Dari sisi perhitungan, sistem tersebut tentu dirancang agar objektif.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Kata Netizen
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Kata Netizen
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Kata Netizen
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
Kata Netizen
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Kata Netizen
Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?
Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?
Kata Netizen
Pelajaran Ekologi dari Seekor Monyet di Gunung Andong
Pelajaran Ekologi dari Seekor Monyet di Gunung Andong
Kata Netizen
Kok 'Gaji Sesuai UMR' Menjadi Benefit dalam Lowongan Kerja?
Kok "Gaji Sesuai UMR" Menjadi Benefit dalam Lowongan Kerja?
Kata Netizen
Merawat Hobi di Tengah Budaya FOMO
Merawat Hobi di Tengah Budaya FOMO
Kata Netizen
Bu Tuminah dan Segelas Jamu yang Menolak Lekang oleh Zaman
Bu Tuminah dan Segelas Jamu yang Menolak Lekang oleh Zaman
Kata Netizen
Ketika Pillow Talk Tak Lagi Menjadi Pengantar Tidur
Ketika Pillow Talk Tak Lagi Menjadi Pengantar Tidur
Kata Netizen
'Osob Kiwalan', Bahasa Identitas Orang Malang
"Osob Kiwalan", Bahasa Identitas Orang Malang
Kata Netizen
Lulusan SMP Berprestasi Masih Jarang Memilih SMK, Kenapa?
Lulusan SMP Berprestasi Masih Jarang Memilih SMK, Kenapa?
Kata Netizen
Mengapa Lingkaran Pertemanan Makin Kecil Saat Dewasa?
Mengapa Lingkaran Pertemanan Makin Kecil Saat Dewasa?
Kata Netizen
Bapana, Tradisi Memanah Ikan di Tengah Masyarakat Bajau
Bapana, Tradisi Memanah Ikan di Tengah Masyarakat Bajau
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau