
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ada satu hal yang belakangan saya sadari: semakin banyak membaca, semakin banyak pula hal yang diketahui. Namun, pengetahuan ternyata tidak selalu menghadirkan ketenangan. Kadang justru melahirkan semakin banyak pertanyaan.
Tanpa terasa, kegelisahan itu ikut terbawa hingga menjelang malam.
Pillow talk yang dahulu menjadi waktu paling nyaman untuk saling bercerita kini sering berubah menjadi diskusi tentang berbagai persoalan yang sedang terjadi di sekitar kita. Alih-alih menjadi pengantar tidur, percakapan itu justru membuat pikiran terus bekerja hingga larut malam.
Beberapa waktu terakhir saya memang sering tidur lebih larut dari biasanya.
Bukan karena menonton film atau terlalu lama bermain media sosial, melainkan karena memikirkan banyak hal yang sebenarnya berada di luar kendali saya.
Berita mengenai kasus korupsi, berbagai kebijakan pemerintah yang masih memunculkan pertanyaan, kenaikan harga kebutuhan hidup, kebijakan efisiensi, pemadaman listrik, hingga berbagai kabar mengenai kekerasan dan persoalan sosial yang hampir setiap hari memenuhi linimasa.
Semua itu perlahan memenuhi ruang di kepala.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kita fokus saja pada apa yang bisa kita lakukan," ujar suami hampir setiap malam.
Kalimat itu sederhana, tetapi tidak selalu mudah saya jalankan. Saya pun sering bertanya kepada diri sendiri. Mengapa saya harus memikirkan persoalan sebesar itu? Bukankah tugas mencari solusi berada di tangan para pengambil kebijakan?
Namun di sisi lain, saya juga menyadari bahwa sebagai warga negara, mustahil rasanya benar-benar tidak peduli. Apa yang terjadi di negeri ini, sedikit banyak akan berdampak pada kehidupan sehari-hari.
Barangkali kegelisahan itu lahir karena masih ada rasa memiliki.
Ketika Pillow Talk Tidak Lagi Ringan
Kesibukan pekerjaan membuat saya dan suami jarang memiliki waktu panjang untuk berbincang.
Ia berangkat pagi dan baru kembali ketika malam hampir tiba. Karena itu, waktu menjelang tidur menjadi kesempatan kami untuk saling bertukar cerita.
Dulu, pillow talk kami dipenuhi hal-hal sederhana. Kami mengenang perjalanan pernikahan, membahas tingkah lucu anak-anak, merencanakan masa depan, atau sekadar saling meminta maaf jika ada kesalahpahaman sepanjang hari.