
Apakah sebuah hobi hanya terasa menyenangkan ketika sedang menjadi tren? Atau justru hobi yang paling bermakna adalah yang tetap kita jalani, meski tidak lagi ramai dibicarakan?
Pada era media sosial, sebuah hobi bisa tiba-tiba menjadi viral. Banyak orang berbondong-bondong mencobanya, membagikan pengalaman mereka, lalu perlahan meninggalkannya ketika tren berganti. Fenomena seperti ini mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupan kita hari ini.
Namun, ada pula hobi yang memilih jalan berbeda. Ia tidak lahir karena sedang populer, tidak pula berhenti ketika sorotan publik menghilang. Hobi seperti inilah yang, menurut saya, tumbuh dari rasa suka yang tulus, bukan sekadar keinginan untuk ikut meramaikan tren.
Saya merasa beruntung memiliki beberapa hobi yang terus bertahan hingga sekarang. Sejak kecil sampai hari ini, ada empat aktivitas yang selalu menjadi bagian dari keseharian saya: membaca, menulis, traveling, dan journaling.
Keempatnya tidak pernah benar-benar berhenti. Mereka hanya berubah bentuk, mengikuti fase kehidupan yang terus berkembang.
Membaca, Hobi yang Tumbuh Bersama Rasa Ingin Tahu
Saya mulai mengenal huruf sejak masih balita. Sejak saat itu pula, rasa ingin tahu seolah menemukan jalannya melalui buku.
Apa pun yang bisa dibaca, hampir selalu menarik perhatian saya. Buku pelajaran, majalah, buku pinjaman teman, hingga koleksi perpustakaan sekolah menjadi teman sehari-hari.
Salah satu buku pertama yang berhasil saya selesaikan bahkan sebelum duduk di bangku sekolah dasar adalah Merebut Kota Perjuangan, yang berkisah tentang perjalanan Soeharto.
Saat itu tentu saya belum benar-benar memahami seluruh isinya. Namun, pengalaman menuntaskan sebuah buku yang cukup tebal di usia dini meninggalkan kesan mendalam. Saya mulai menyadari bahwa setiap buku selalu membawa perjalanan baru.
Kesempatan membaca pada masa itu tentu jauh berbeda dibandingkan sekarang. Belum ada toko buku di kota kecil tempat saya tinggal, apalagi layanan belanja daring yang memungkinkan buku datang hanya dalam hitungan hari.
Sebagian besar bacaan saya berasal dari perpustakaan sekolah atau hasil meminjam milik teman. Koleksinya memang terbatas, tetapi justru keterbatasan itu membuat setiap buku terasa begitu berharga.
Saat merantau untuk kuliah, tantangannya berubah. Kondisi keuangan membuat saya harus memilih buku dengan lebih cermat.
Sebagian besar pengeluaran untuk membeli buku saya arahkan pada materi pembelajaran bahasa Inggris yang memang menjadi kebutuhan selama kuliah. Keinginan membaca buku-buku lain sementara harus disimpan.
Baru ketika mulai bekerja, saya perlahan bisa memenuhi keinginan yang sempat tertunda itu. Novel, buku pengembangan diri, sejarah, psikologi, hingga berbagai buku nonfiksi mulai memenuhi rak di rumah.