Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Veronika Gultom
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Veronika Gultom adalah seorang yang berprofesi sebagai Konsultan. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan

Kompas.com, 20 Juli 2026, 17:00 WIB

Melihat pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), apakah teknologi ini akan mengambil alih pekerjaan manusia, atau justru membuka lebih banyak kesempatan bagi mereka yang mampu beradaptasi?

Beberapa waktu terakhir, hampir setiap kali saya membuka media daring, sebuah iklan tentang pelatihan kecerdasan buatan (AI) muncul di layar.

Menariknya, alih-alih langsung menawarkan produk, iklan tersebut lebih dulu menghadirkan kisah-kisah yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tokohnya berganti, latarnya berbeda, tetapi pesan yang disampaikan tetap sama: AI bukan sekadar teknologi baru, melainkan alat yang dapat membantu manusia bekerja lebih efektif.

Di situlah letak daya tariknya. Iklan tersebut tidak hanya menjual sebuah kursus, tetapi mengajak penonton membayangkan bagaimana dunia kerja sedang berubah.

Perubahan itu memang semakin nyata. AI kini hadir di berbagai bidang pekerjaan, mulai dari administrasi, pemasaran, pendidikan, desain, hingga pengembangan perangkat lunak. Di tengah perubahan tersebut, masih banyak orang yang memandang AI sebagai ancaman.

Padahal, jika digunakan secara tepat, AI justru dapat menjadi alat yang membantu manusia menyelesaikan pekerjaan yang rumit dalam waktu yang lebih singkat.

Mengapa hal itu penting? Karena semakin kompleks sebuah pekerjaan, semakin besar pula waktu dan energi yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Di sisi lain, dunia kerja saat ini bergerak semakin cepat. Tenggat waktu semakin pendek, sementara tuntutan produktivitas terus meningkat.

Dalam kondisi seperti itu, sering kali orang mencoba "mencuri waktu" dengan cara yang kurang sehat. Datang lebih pagi, pulang lebih malam, atau membawa pekerjaan hingga ke rumah demi mengejar target.

Akibatnya, waktu bersama keluarga berkurang, kesempatan mengembangkan diri semakin sempit, waktu istirahat terabaikan, dan kelelahan menjadi bagian dari rutinitas.

Saya pernah mengalami situasi semacam itu dalam beberapa proyek pekerjaan.

Pada awal proyek, ritme kerja masih terasa wajar. Jam pulang masih normal dan masih ada ruang untuk melakukan aktivitas di luar pekerjaan, baik menghabiskan waktu bersama keluarga, mengikuti kegiatan komunitas, belajar hal baru, maupun sekadar bertemu teman.

Namun, ketika tenggat mulai mendekat, suasana berubah. Jam pulang semakin larut. Pekerjaan yang belum selesai ikut dibawa ke rumah. Keesokan harinya kembali bekerja dengan kondisi tubuh dan pikiran yang belum sepenuhnya pulih.

Pada akhirnya, hampir seluruh perhatian tersita untuk pekerjaan. Berita-berita penting sering terlewat. Bahkan kabar dari keluarga sendiri kadang luput karena pikiran terus dipenuhi daftar pekerjaan yang belum selesai.

Gambaran seperti itulah yang juga ditampilkan dalam iklan yang saya tonton.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Kata Netizen
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Kata Netizen
Faktanya, Tak Semua Buku Impor Orisinal
Faktanya, Tak Semua Buku Impor Orisinal
Kata Netizen
Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dalam Rumah Tangga?
Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dalam Rumah Tangga?
Kata Netizen
Reusable Bag hingga Panen Kompos, Langkah Kecil Mengurangi Sampah
Reusable Bag hingga Panen Kompos, Langkah Kecil Mengurangi Sampah
Kata Netizen
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kata Netizen
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Kata Netizen
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Kata Netizen
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Kata Netizen
Sastra Indonesia dan Peluang Menjadi Wirausahawan Literasi
Sastra Indonesia dan Peluang Menjadi Wirausahawan Literasi
Kata Netizen
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Kata Netizen
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Kata Netizen
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Kata Netizen
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Kata Netizen
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau