
Pengalaman serupa saya lihat dari ayah saya yang berprofesi sebagai guru SMA negeri.
Sebagai kepala keluarga dengan empat orang anak, beliau menyadari bahwa kebutuhan rumah tangga terus bertambah.
Selepas mengajar di sekolah, beliau membuka bimbingan belajar.
Awalnya beliau mendatangi rumah para siswa satu per satu. Menjelang masa pensiun, garasi rumah disulap menjadi ruang belajar sederhana yang setiap sore dipenuhi siswa SMA.
Aktivitas itu dilakukan bukan karena profesi guru kurang bermakna, tetapi sebagai bentuk ikhtiar agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Dari beliau saya belajar bahwa menjadi ASN bukan berarti bebas dari tantangan ekonomi. Seperti banyak keluarga lainnya, mereka juga harus mengatur keuangan, berhemat, bahkan mencari penghasilan tambahan.
Menghargai Beragam Profesi
Sebagai ASN, tentu kami juga terbuka terhadap kritik. Masukan dari masyarakat menjadi bagian penting dalam memperbaiki kualitas pelayanan publik.
Namun di sisi lain, rasanya akan lebih adil apabila penilaian terhadap sebuah profesi dilakukan dengan melihat kenyataan yang lebih utuh.
Di balik seragam ASN ada guru yang mengajar hingga sore, tenaga kesehatan yang bergantian jaga malam, petugas lapangan yang bekerja di daerah terpencil, hingga pegawai administrasi yang memastikan pelayanan publik tetap berjalan.
Sebagian besar dari mereka mungkin tidak banyak terlihat di ruang publik, tetapi pekerjaan mereka tetap menjadi bagian penting dari roda pemerintahan.
Pada akhirnya, setiap profesi memiliki tantangan dan tanggung jawab masing-masing.
Menjadi ASN bukan semata tentang memperoleh penghasilan yang tetap, tetapi juga tentang memenuhi amanah pelayanan kepada masyarakat dengan berbagai tuntutan akuntabilitas yang terus berkembang.
Mungkin masih ada oknum yang belum bekerja sebagaimana mestinya. Hal itu tentu tidak bisa dimungkiri.
Namun, rasanya kurang tepat jika pengalaman segelintir orang kemudian dijadikan gambaran bagi seluruh ASN di Indonesia.
Di tengah berbagai dinamika pelayanan publik, saling memahami dan menghargai kerja setiap profesi akan jauh lebih bermanfaat daripada memperkuat stereotip yang belum tentu mewakili kenyataan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ketika ASN Dibilang Hanya Datang, Minum Kopi Lalu Pulang"
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT