
Apakah benar kehidupan seorang aparatur sipil negara (ASN) hanya diisi dengan datang ke kantor, menikmati secangkir kopi, lalu menunggu jam pulang? Ataukah ada sisi lain dari pekerjaan mereka yang jarang terlihat oleh publik?
Siang itu grup percakapan para perawat cukup ramai. Sebuah potongan video yang menampilkan pernyataan seorang anggota DPR beredar luas.
Dalam pernyataan tersebut muncul anggapan bahwa ASN hanya datang ke kantor, minum kopi, lalu menunggu waktu untuk melakukan absen pulang.
Bagi banyak rekan saya, pernyataan itu terasa mengusik. Bukan semata karena kritik terhadap ASN, melainkan karena kalimat tersebut terdengar seperti menggambarkan seluruh ASN dengan karakter yang sama.
Padahal, sebagaimana profesi lain, kinerja ASN juga sangat beragam. Ada yang bekerja di balik meja administrasi, ada yang bertugas di lapangan, ada pula yang melayani masyarakat selama 24 jam seperti tenaga kesehatan.
Menggeneralisasi seluruh ASN tentu berpotensi mengaburkan realitas yang jauh lebih kompleks.
Sebagai perawat yang berstatus ASN, saya merasakan bahwa tuntutan pekerjaan justru semakin besar dari waktu ke waktu.
Target kinerja kini terdokumentasi secara digital. Laporan pekerjaan dilakukan melalui sistem elektronik. Kehadiran tercatat secara daring. Bahkan ketika izin sakit pun, prosedurnya harus dilengkapi dengan dokumen pendukung yang diunggah melalui sistem.
Semua itu menjadi bagian dari akuntabilitas yang harus dipenuhi.
Perjalanan Menjadi ASN Tidaklah Singkat
Menjadi ASN bukanlah perjalanan yang saya tempuh dengan mudah.
Saya mengikuti seleksi sebanyak tiga kali sebelum akhirnya dinyatakan lolos. Setiap tahapan membutuhkan persiapan yang tidak sedikit, mulai dari seleksi administrasi, Computer Assisted Test (CAT), hingga tes bidang.
Saat itu saya masih bertugas di pedalaman Lampung Utara, sementara beberapa tahapan seleksi harus dijalani di Palembang. Perjalanan panjang menjadi bagian dari proses yang harus dilalui.
Setelah dinyatakan lulus pun, perjuangan belum selesai.
Masih ada tes psikologi MMPI, pemeriksaan bebas narkoba, hingga proses pemberkasan yang harus diselesaikan tepat waktu agar Nomor Induk Pegawai (NIP) dapat diterbitkan.
Status sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) juga bukan berarti langsung menikmati kenyamanan bekerja.
Selama masa CPNS, gaji yang diterima masih sebesar 80 persen. Kami menjalani orientasi di berbagai unit kerja untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, kemudian mengikuti Latihan Dasar (Latsar) CPNS.
Latsar menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Kami tinggal di balai pelatihan, mengikuti kegiatan yang disiplin sejak dini hari, latihan fisik, hingga pembelajaran mengenai nilai-nilai dasar ASN seperti pelayanan publik, akuntabilitas, integritas, dan antikorupsi.
Nah, pada akhir pelatihan, peserta juga harus menyelesaikan berbagai tugas dan mengikuti ujian sebagai syarat kelulusan.
Semua proses itu dirancang untuk membentuk ASN yang mampu menjalankan tanggung jawabnya kepada masyarakat.
Realitas Bekerja di Rumah Sakit
Di rumah sakit, ritme kerja sering kali jauh dari gambaran bahwa ASN memiliki banyak waktu luang.
Sebagai perawat, tugas kami bukan hanya memberikan pelayanan langsung kepada pasien. Ada pula dokumentasi medis, koordinasi antarprofesi, pelaporan administrasi, hingga berbagai tugas tambahan lainnya.
Dalam satu shift, waktu istirahat sering kali tidak berjalan sesuai rencana.
Tidak jarang bekal makan siang yang sudah dibawa sejak rumah justru kembali utuh karena pekerjaan belum memungkinkan untuk berhenti sejenak.
Bagi tenaga kesehatan, pelayanan kepada pasien tetap menjadi prioritas utama.
Karena itu, ketika mendengar anggapan bahwa ASN hanya datang, minum kopi, lalu menunggu jam pulang, saya merasa pengalaman kerja yang dijalani banyak rekan seprofesi menjadi kurang terlihat.
Banyak Wajah di Balik Profesi ASN
ASN bekerja di berbagai sektor pelayanan publik.
Ada guru yang setiap hari mendampingi proses belajar mengajar, tenaga administrasi yang memastikan layanan pemerintahan berjalan, penyuluh pertanian yang mendampingi petani, hingga tenaga kesehatan yang bertugas di rumah sakit maupun puskesmas.
Masing-masing memiliki tantangan yang berbeda. Oleh karena itu, sulit rasanya menggambarkan seluruh ASN dengan satu narasi yang sama.
Kritik tentu tetap diperlukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik. Namun kritik akan menjadi lebih konstruktif apabila didasarkan pada data dan mampu membedakan persoalan yang bersifat individual dengan kondisi yang bersifat umum.
Kisah Seorang Perawat Senior
Saya teringat seorang perawat senior yang pernah bertugas di Sebatik Tengah, Kalimantan Utara.
Di luar jam kerja, beliau membantu mengangkut tandan buah sawit di perkebunan. Pada musim liburan sekolah, beliau juga membuka layanan khitan keliling bagi anak-anak di sekitar tempat tinggalnya.
Pekerjaan tambahan itu dijalani bukan karena kurang mencintai profesinya sebagai perawat, melainkan sebagai upaya memenuhi kebutuhan keluarga.
Pengalaman tersebut mengajarkan kepada saya bahwa banyak ASN tetap berusaha mencari penghasilan tambahan dengan cara yang halal tanpa meninggalkan tanggung jawab utama mereka.
Belajar dari Sosok Ayah
Pengalaman serupa saya lihat dari ayah saya yang berprofesi sebagai guru SMA negeri.
Sebagai kepala keluarga dengan empat orang anak, beliau menyadari bahwa kebutuhan rumah tangga terus bertambah.
Selepas mengajar di sekolah, beliau membuka bimbingan belajar.
Awalnya beliau mendatangi rumah para siswa satu per satu. Menjelang masa pensiun, garasi rumah disulap menjadi ruang belajar sederhana yang setiap sore dipenuhi siswa SMA.
Aktivitas itu dilakukan bukan karena profesi guru kurang bermakna, tetapi sebagai bentuk ikhtiar agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Dari beliau saya belajar bahwa menjadi ASN bukan berarti bebas dari tantangan ekonomi. Seperti banyak keluarga lainnya, mereka juga harus mengatur keuangan, berhemat, bahkan mencari penghasilan tambahan.
Menghargai Beragam Profesi
Sebagai ASN, tentu kami juga terbuka terhadap kritik. Masukan dari masyarakat menjadi bagian penting dalam memperbaiki kualitas pelayanan publik.
Namun di sisi lain, rasanya akan lebih adil apabila penilaian terhadap sebuah profesi dilakukan dengan melihat kenyataan yang lebih utuh.
Di balik seragam ASN ada guru yang mengajar hingga sore, tenaga kesehatan yang bergantian jaga malam, petugas lapangan yang bekerja di daerah terpencil, hingga pegawai administrasi yang memastikan pelayanan publik tetap berjalan.
Sebagian besar dari mereka mungkin tidak banyak terlihat di ruang publik, tetapi pekerjaan mereka tetap menjadi bagian penting dari roda pemerintahan.
Pada akhirnya, setiap profesi memiliki tantangan dan tanggung jawab masing-masing.
Menjadi ASN bukan semata tentang memperoleh penghasilan yang tetap, tetapi juga tentang memenuhi amanah pelayanan kepada masyarakat dengan berbagai tuntutan akuntabilitas yang terus berkembang.
Mungkin masih ada oknum yang belum bekerja sebagaimana mestinya. Hal itu tentu tidak bisa dimungkiri.
Namun, rasanya kurang tepat jika pengalaman segelintir orang kemudian dijadikan gambaran bagi seluruh ASN di Indonesia.
Di tengah berbagai dinamika pelayanan publik, saling memahami dan menghargai kerja setiap profesi akan jauh lebih bermanfaat daripada memperkuat stereotip yang belum tentu mewakili kenyataan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ketika ASN Dibilang Hanya Datang, Minum Kopi Lalu Pulang"
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT