
Beberapa hari kemudian giliran anak saya yang mulai mengalami demam ringan, terutama pada malam hari.
"Kita lihat dulu. Kalau besok masih demam, kita periksa ke puskesmas," kata saya saat itu.
Keesokan paginya, sebelum berangkat, saya melihat beberapa bintil kecil mulai muncul di lehernya.
Saya langsung menduga bahwa penyakit ini telah menular.
Kami pun menuju puskesmas dan kembali memperoleh obat yang hampir sama: acyclovir, ibuprofen, dan vitamin. Hanya saja dosis antivirus yang diberikan berbeda, yaitu empat kali sehari masing-masing satu tablet.
Perbedaan dosis itu sempat membuat kami bertanya-tanya. Namun karena kondisi anak sedang kurang nyaman, kami memilih mengikuti petunjuk dokter dan langsung pulang.
Beberapa hari berikutnya, ruam justru bermunculan semakin banyak, terutama di punggung, perut, dan wajah.
Anak saya mulai khawatir melihat jumlah bintil yang terus bertambah.
Saya berusaha menenangkannya bahwa mungkin memang seluruh ruam sedang muncul terlebih dahulu sebelum akhirnya mengering.
Kekhawatiran Membawa Kami ke UGD
Memasuki hari berikutnya, muncul keluhan baru.
Anak saya mengatakan matanya terasa perih seperti kemasukan benda asing. Air matanya terus keluar.
Kekhawatiran kami bertambah karena beberapa bintil cacar muncul cukup dekat dengan area mata.
Seperti banyak orang lainnya, kami mencoba mencari informasi melalui internet. Dari sana kami menemukan berbagai penjelasan mengenai kemungkinan komplikasi apabila infeksi mengenai mata.
Semakin banyak membaca, semakin besar pula kecemasan yang kami rasakan.
Daripada terus berspekulasi sendiri, kami memutuskan berkonsultasi dengan dokter praktik yang berada tidak jauh dari rumah.
Setelah diperiksa, dokter menjelaskan bahwa proses penyembuhan cacar air umumnya membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Kami pun diberikan resep tambahan berupa acyclovir dan vitamin dengan penyesuaian dosis.
Penjelasan tersebut sempat membuat kami lebih tenang. Namun menjelang malam, mata anak saya kembali berair dan terasa perih. Saya menghubungi dokter untuk meminta saran. Beliau menyarankan agar kami berkonsultasi dengan dokter spesialis mata.